Selama dua hari, pada 19 dan 20 Juli lalu, Kedai Kopi Cukil di Jl. Lebak Bulus 1 ada dua lokakarya seni rupa yang begitu menarik: Kolase dan cetak cukil grafis. Acara bertajuk "Helo Juni, Pakabar Juli" ini, bagi saya, seolah menghentikan waktu sejenak.
Mengajak para pesertanya kembali menggunakan tangannya yang selama ini sudah terbelenggu gadget dan dilenakan oleh AI
Tumpukan majalah dan koran bekas berserakan. Bukan sebagai sampah, melainkan medium baru yang siap diubah. Para peserta, yang sebagian besar adalah karyawan kantor, tampak asyik memotong, merobek, dan menempelkan potongan-potongan kertas tersebut menjadi komposisi visual yang imajinatif.
Ada Lulu Ratna, menjadi salah satu pegiat lokakarya kolase tersebut, terlihat ia begitu antusias membagikan bahan.
Terasa sekali bahwa ruang itu menjelma menjadi lebih dari sekadar ajang mengasah kreativitas; ia menjadi tempat bertukar cerita, di mana keluh kesah tentang kerasnya hari-hari di Jakarta ditumpahkan dalam aktifitas seni.
Tak jauh dari sana, saya melihat adik-adik Gen Z dan Gen Alpha—dipandu oleh para fasilitator Gen Milenial, asyik dengan alat-alat cukil. Di bawah bimbingan Ibob Susu.
Mereka mengenal seluk-beluk seni grafis: mulai dari alat, bahan cetak lino, hingga jenis tinta. Coretan sederhana menjadi garis, garis menjadi bentuk, lalu dicetak di atas lembaran kertas, menciptakan jejak personal yang autentik.
Antusiasme Gen Alpha, bahkan di hari kedua yang diikuti oleh dua puluhan peserta, bagi saya menunjukkan daya tarik kerja manual yang tak lekang oleh digital. Hasilnya pun beragam, dari karakter kartun lucu hingga pesan-pesan lingkungan yang mendalam yang mereka tuangkan.
Lokakarya yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB ini digagas oleh tiga kolektif: Senin Grafis, Kumpul Kolase, dan Ibob Susu dkk yang fokus pada cetak grafis di atas kain.
Arif Hidayat, anggota kolektif Senin Grafis sekaligus koordinator acara, terlihat menjadi sosok paling sibuk di balik kelancaran "Helo Juni, Pakabar Juli." Menurut Arif, atau yang akrab disapa "Batawi," kehadiran peserta yang mencapai 30 orang di hari pertama adalah bukti nyata kerinduan akan kreasi manual.
Saya juga melihat bahwa hasil karya lokakarya ini tak hanya disimpan, namun langsung dipamerkan di selasar Kedai Kopi Cukil, berdampingan dengan karya-karya lain yang lebih dulu menghiasi dinding.
Sebuah etalase di ruang depan turut menyajikan produk merchandise menarik dari Artcukil_tshirt, mulai dari kaus, pouch, tote bag, hingga produk cetak manual lainnya.
Saat ini, mengharapkan karya seni murni bisa terbeli tentunya sangatlah berat. Oleh karena itu, siasat membuat produk turunan agar bisa lebih terjangkau oleh masyarakat menjadi strategi jitu bagi para seniman agar kehidupan dan penghidupan mereka tetap berjalan.
Bagi saya, ini adalah bukti nyata bahwa seni, dalam segala bentuknya, selalu menemukan cara untuk tetap bernapas dan terhubung dengan denyut nadi masyarakat pecintanya
