Showing posts with label catatan seni rupa. Show all posts
Showing posts with label catatan seni rupa. Show all posts

Monday, July 21, 2025

Melampaui AI: Ketika Seni Manual Bertemu Jiwa Urban di Kopi Cukil

 

Selama dua hari, pada 19 dan 20 Juli lalu, Kedai Kopi Cukil di Jl. Lebak Bulus 1 ada dua lokakarya seni rupa yang begitu menarik: Kolase dan cetak cukil grafis. Acara bertajuk "Helo Juni, Pakabar Juli" ini, bagi saya, seolah menghentikan waktu sejenak.


Mengajak para pesertanya kembali menggunakan tangannya yang selama ini sudah terbelenggu gadget dan dilenakan oleh AI
Tumpukan majalah dan koran bekas berserakan. Bukan sebagai sampah, melainkan medium baru yang siap diubah. Para peserta, yang sebagian besar adalah karyawan kantor, tampak asyik memotong, merobek, dan menempelkan potongan-potongan kertas tersebut menjadi komposisi visual yang imajinatif.
Ada Lulu Ratna, menjadi salah satu pegiat lokakarya kolase tersebut, terlihat ia begitu antusias membagikan bahan.
Terasa sekali bahwa ruang itu menjelma menjadi lebih dari sekadar ajang mengasah kreativitas; ia menjadi tempat bertukar cerita, di mana keluh kesah tentang kerasnya hari-hari di Jakarta ditumpahkan dalam aktifitas seni.
Tak jauh dari sana, saya melihat adik-adik Gen Z dan Gen Alpha—dipandu oleh para fasilitator Gen Milenial, asyik dengan alat-alat cukil. Di bawah bimbingan Ibob Susu.
Mereka mengenal seluk-beluk seni grafis: mulai dari alat, bahan cetak lino, hingga jenis tinta. Coretan sederhana menjadi garis, garis menjadi bentuk, lalu dicetak di atas lembaran kertas, menciptakan jejak personal yang autentik.
Antusiasme Gen Alpha, bahkan di hari kedua yang diikuti oleh dua puluhan peserta, bagi saya menunjukkan daya tarik kerja manual yang tak lekang oleh digital. Hasilnya pun beragam, dari karakter kartun lucu hingga pesan-pesan lingkungan yang mendalam yang mereka tuangkan.
Lokakarya yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB ini digagas oleh tiga kolektif: Senin Grafis, Kumpul Kolase, dan Ibob Susu dkk yang fokus pada cetak grafis di atas kain.
Arif Hidayat, anggota kolektif Senin Grafis sekaligus koordinator acara, terlihat menjadi sosok paling sibuk di balik kelancaran "Helo Juni, Pakabar Juli." Menurut Arif, atau yang akrab disapa "Batawi," kehadiran peserta yang mencapai 30 orang di hari pertama adalah bukti nyata kerinduan akan kreasi manual.
Saya juga melihat bahwa hasil karya lokakarya ini tak hanya disimpan, namun langsung dipamerkan di selasar Kedai Kopi Cukil, berdampingan dengan karya-karya lain yang lebih dulu menghiasi dinding.
Sebuah etalase di ruang depan turut menyajikan produk merchandise menarik dari Artcukil_tshirt, mulai dari kaus, pouch, tote bag, hingga produk cetak manual lainnya.
Saat ini, mengharapkan karya seni murni bisa terbeli tentunya sangatlah berat. Oleh karena itu, siasat membuat produk turunan agar bisa lebih terjangkau oleh masyarakat menjadi strategi jitu bagi para seniman agar kehidupan dan penghidupan mereka tetap berjalan.
Bagi saya, ini adalah bukti nyata bahwa seni, dalam segala bentuknya, selalu menemukan cara untuk tetap bernapas dan terhubung dengan denyut nadi masyarakat pecintanya

Saturday, June 21, 2025

Graphic Memoir,komik yang mengaduk kenangan

 

 


Pada hari kamis (12/6/2025). Pameran komik Graphic Memoir di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah secara resmi dibuka

Pameran ini terselenggara hasil Kerjasama  Bentara Budaya dengan DKV IKJ dan Institut français d'Indonésie (IFI). 

Graphic memoir merupakan genre komik yang memadukan kekuatan gambar dengan narasi personal para perupa/ komikusnya.

Penonton diajak menyelami beragam cerita yang menyentuhm personal dan reflektif. 

Pameran Graphic memoir ini memberi  ruang untuk  mengeksplorasi kenangan dan cerita  perjalanan hidup yang divisualisasikan baik secara realistis/ apa adanya, maupun secara simbolik sehingga pesan yang disampaikan harus dicerna terlebih dahuku sebelum bisa di pahami oleh apresian. Ada sekitar 62 seniman dari Indonesia dan mancanegara yang terpilih melalui jalur undangan dan “open call”. 


Kisah-kisah tentang pengalaman masa kecil, masalah keluarga, kehidupan urban, hingga kisah kehilangan dan trauma dihadirkan dengan bermacam gaya visual yang khas dan unik oleh para seniman. 

Ilham Khoiri, GM Bentara Budaya & Communication Management Kompas Gramedia menyampaikan karya-karya komik yang ditampilkan  menghadirkan satu genre komik yang cenderung untuk mengembangkan storytelling versi masing-masing seniman dengan latar belakang beragam. Ada komikus yang memang memproduksi komik seperti Kurnia Harta Winata, Beng Rahadian, sampai Rahman seblat dan Emul Mulyono yang berlatar belakang seniman murni

“Karena itu, hasilnya pun bervariasi secara rupa, dan semoga semuanya menyentuh hati kita melalui pesan-pesan kemanusiaan yang lebih universal.,” ungkapnya di acara pembukaan pameran yang ramai dipadati penggemar komik.

Sambutan berikutnya dari  Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar yang hadir membuka pameran komik Graphic Memoir. “This is a very important event. This is my first time in Bentara Budaya. Dan saya di sini melihat luar biasa banget, this amazing collaboration of how comics and architecture are put together in such a beautiful place and actually tell stories,” jelasnya. 

Irene mengatakan, komik memiliki kekuatan untuk menyederhanakan pesan yang kompleks dan menjangkau semua kalangan. “These comics make it easier for people to digest. Comics also can be adaptable to all readers, karena terkadang ada keterbatasan untuk memvisualisasikan apa yang ada di dalam sebuah kata-kata—karena kita manusia yang berimajinasi. Comics capture a piece of history with accuracy, in a comical, enjoyable, and happy way,”

Pameran Graphic Memoir ini menampilkan 21 perupa komik undangan, tiga perupa komik asal Prancis dan satu komikus asal Amerika, serta 41 perupa komik dari hasil open call

Karya-karya dari seluruh seniman yang dipamerkan pada pameran ini bukan sekadar arsip visual, melainkan juga medium ekspresi yang menyentuh isu-isu lebih luas seperti identitas, ruang hidup, dan dinamika keseharian yang kerap terabaikan.

Monday, December 30, 2024

Perihal sensor karya dan klarifikasinya

 


Akhirnya yang saya cari-cari ketemu juga.

Klarifikasi kurator pameran galnas yang heboh itu.
Kalrifikasi tersebut ada di channel youtubenya mojok, di acara “putcast”
Di acara itu pak Warno sang kurator bercerita perihal ontran-ontran yang masih hangat, yaitu tentang “boikot” pameran seni rupa Yos Suprapto di galeri Nasional beberapa waktu yang lalu.
Sebelum membahas topik utama, pak Warno bercerita terlebih dulu seputar proses kuratorial dan dinamika yang terjadi di Galnas. Ini juga jadi poin pembahasan yang menarik, sayangnya tidak tuntas pembahasannya.
Seperti yang kita ketahui bersama, Jagat seni rupa yang sebelumnya adem cenderung hambar, tau-tau menjadi hiruk pikuk meledakkan kabar sumir, “boikot” karya, yang tentu saja menyentak kesadaran banyak orang khususnya yang berkecimpung di dunia seni rupa dan masyarakat umum.
Yang kemudian bereaksi keras adalah teman-teman aktifis, karena sang seniman selain pelukis juga aktifis lingkungan/ pertanian. Solidaritas sesame aktifis kemudian “meledakkan” kabar boikot tersebut di media sosial
Iya, kalau flashback ke belakang, pertama kali saya mendapat kabar tentang “ boikot” karya ini dari beranda fesbuk teman-teman aktifis. Dari cara merespon kabar tersebut terasa sekali semangat “membela” dari tema sesama aktifis yang tersentak perasaannya karena “ketidak adilan” yang menimpa Yos suprapto.
Tercatat ada tiga aktifis yang menyebarkan kabar tersebut, ada mas Bram, lalu pak tri/ kartriaji dan Imam Sofwan.
Karena kepo lalu saya mulai mencari tahu kebenaran kabar tersebut.
Langkah berikut dari kekepoan saya adalah adalah mencari “pembelaan” dari kuratornya, atau pihak terkait lainnya, mislanya galnas atau bahkan Menteri kebudayaan.
Sementara itu pernyataan yang keluar dan viral ke publik dari awal adalah omongan senimannya yang merasa terzolimi dan menjadi korban ketidakadilan.
Akhirnya yang saya cari ketemu di “putcast”, sebuah talkshow produksi group mojok.
Dari tayangan tersebut, saya mulai agak benderang mendapatkan cerita dari sisi kuratornya yaitu Pak Warno.
Selain menjelaskan soal pameran yang heboh tersebut, pak Warno juga memberi banyak informasi penting terkait proses kuratorial, juga posisi Galnas saat ini, yang saya pun ternyata salah memahaminya.
Menurut pak Warno, terkait Galnas, ada regulasi yang berubah saat ini sehingga mempengaruhi beberapa kebijakan, yang kalau di runut bisa jadi memberi kontribusi terhadap kehebohan yang terjadi.
Regulasi tersebut berhubungan dengan sistem pengelolaan Gakeri Nasional yang berubah, dari manajemen galeri berubah menjadi manajemen museum.
Menyimak penjelasan pak Warno, ada beberapa poin yang menting untuk dicatat.
poin pertama, soal posisi. Bagaimana melihat Posisi hubungan antara kurator, seniman dan galeri sebagai “pemilik hajatan”
Kurator menurut pak warno dipilih oleh galeri yang kemudian menawarkannya ke seniman, setelah seniman sepakat baru kerja kuratorial dilaksanakan.
Kemudian ada hal penting Lgi tetapi tak terjelaskan secara detail oleh pak Warno, yaitu posisi galeri nasional sendiri secara institusi.
Sebagai galeri milik negara tentunya Galnas memiliki aturan/ kebijakan tertentu.
Selain itu, sebagai sebuah galeri, baik milik pemerintah atau individu tentunya punya kecenderungan dalam memilih karya dan seniman yang akan ditampilkannya.
Sebagai galerinya pemerintah, tentunya memiliki aturan ketat yang akan yang berpengaruh dalam penentuan tema karya misalnya, termasuk juga pemilihan senimannya.
Tak terbayangkan misalnya galeri yang jelas-jelas milik pemerintah kemudian memajang karya yang menyerang pemerintahan sendiriAtau , menampilkan karya-karya provokatif misalnya. Atau menjelek-jelekkan aparatur negara.
Tetapi tak ada penjelasan memadai tentang itu dari kurator. Seperti kita ketahui, pak Warno adalah salah satu anggota dewan kurator Galnas, yang jelas memiliki otoritas untuk menjelaskan serta sangat jelas posisi keberpihakannya ke siapa.
Kemudian poin kedua yang perlu dicatat adalah soal sikap.
Ini poin penting.
Sikap tidak tegas terlihat dari pernyataan pak Warno sebagai kurator yang tidak bisa memberi rambu-rambu ke seniman. Harusnya sebagai institusi sebesar galeri nasional, mereka punya aturan-aturan yang wajib disepakati oleh pihak yang akan bekerjasama.
Aturan itu wujudnya adalah perjanjian hitam putih diatas kertas yang wajib disepakati dan ditaati.
Aturan itu akan menjadi acuan galeri maupun kurator. Imbasnya seleksi karya jadi lebih ketat dan terukur sesuai visi dan misi galeri, sehingga meminimalkan masalah yang muncul di kemudian hari.
Lalu problem “tidak enakan” tidak akan terjadi.
Bom waktu bernama “tidak enakan” itu sepertinya yang jadi intinya inti dari masalah yang terjadi kemduian beneran meledak..
“DUARR”
Sikap yang kemudian dikaitkan dengan kultur jogja yang saya sendiri sering mmengalami. Tidak enakan memberi harga, tidak enakan meminta DP, tidak enakan bilang tidak.. haiss.
Dalam kerja kerja professional ya ndak boleh bersikap seperti itu.
Tapi, ada satu pernyataan pak Warno yang buat saya pribadi menarik dicatat.
“Senimu untuk apa”
Sebuah pernyataan berbentuk pertanyaan itu cukup layak jadi renungan akhir tahun.

Seni cetak mencetak uang


Ada beberapa peristiwa penting di tahun ini yang menarik dicatat, khususnya yang berhubungan dengan seni rupa yang mana saya adalah bagian didalamnya. Awal tahun saya gabung dgn gerombolan reunian yang berisi teman² alumni grafis murni. Mereka kumpul di Galnas membuat koloni Klangenan. Kegiatan utamanya membuat karya dengan teknik cetak tinggi.

Karena kumpulnya tiap Senin maka dinamai "Senin grafis"
Meskipun saya tak begitu aktif setidaknya gerombolan ini kembali mengentalkan darah minoritas saya, sebagai sarjana seni sablon/SSn.
Beberapa kawan lama terlihat antusias berkegiatan di pojokan galnas tersebut. Mereka membuat karya dengan sukacita. Mengisi waktu menuanya kembali kumpul dengan teman lama. Wajah² yg jaman kuliah dulu terlihat gagah sekarang tentu berubah, dan beruban. Tetapi semangat sor ringin/gampingan 1 nya masih terasa.
Beberapa kali mereka bikin workshop keliling. Meski saya tidak ikut karena masih proses penyembuhan mata.
Meski dari kejauhan saya tetap Bangga. Seni grafis masih ada. Alumninya aktif berkegiatan meski nirlaba.
Sampai kemudian ada berita yg mencengangkan saya, sekaligus membuat lumayan shock.
Di sebuah kampus Islam di suatu tempat nun jauh disana terjadi aktifitas cetak mencetak yang jauh lebih canggih, menantang adrenalin dan berbahaya. Seni cetak mencetak yang bagi kami proses yang melibatkan hati dan jauh dari laba seperti diketawain oleh mereka. Mungkin kami yang terlalu cupu sehingga tak berani berpikir sejauh mereka.
Padahal institusi yang menaungi mereka jelas² lembaga agama.
Sedangkan kami? Sering mendaku sekuler atau malah agnostik. Yang jauh dari norma agama.
Yang jelas kami kalah nyali, atau tidak punya pembenaran terhadap apa yang menjadi pilihan seperti yang mereka lakukan..
Mungkin mereka punya dalil yang membenarkan perilaku mereka sehingga segala cara dilakukan. Mungkin ada agenda lain yg dirasa penting sehingga cara itu ditempuh.
Cara yang bagi kami sangat mungkin bisa dilakukan.
Apalagi kami sekumpulan sarjana cetak mencetak.
Tetapi mencetak uang jauh dari pikiran kami.
Atau nyali ini memang seupil. Padahal kalau menuruti keadaan dan kenyataan. Keuangan diantara kamipun bisa dikatakan alakadarnya.
Masih butuh lembaran merah itu untuk menyambung hidup.
Sekumpulan sarjana ilmu agama itu mencetak uang diam² sejak tahun 2010. Bayangkan coba
Di sebuah perpustakaan kampus yang saya bayangkan berisi buku² relijies, ilmu agama beserta tafsirnya. Bahkan dipastikan ada kitab suci di dalamnya.
Mereka mencetak uang selama hampir 15 tahun dan baru ketahuan di tahun ini. Bayangkan sudah berapa nominalnya.
Sudah berapa event yg bisa mereka ongkosi dengan aktifitas itu.
Kalau di kesenian, sudah berapa pameran seni yg bisa dibiayai dengan aktifitas cetak mencetak tersebut.
Gak perlu susah² bikin proposal ke negara, demi bisa pameran.
Tak perlu negosiasi alot dgn kurator yg disetir galeri karena kita penguasanya.
Ya karena kita pemilik uangnya. Bisa seenaknya dong
Dan yg pasti, ga perlu susah² jualan karya yg tujuannya mendapat cuan, karena kita pembuat cuannya. Ha ha ha.
Ah sudahlah, sudah cukup ngelanturnya


Friday, August 14, 2020

Momok itu bernama Kritik Seni #catatansenirupa

 Pagi-pagi baca tulisan salah satu seniman kakak kelas satu angkatan, baik pas di SMSR dan di ISI jurusan seni murni, tentang proses keseniannya beserta remeh temeh yang menyertainya.

Lalu saya menulis ini:
Satu hal yang akan selalu jadi ingatan saat kuliah di ISI adalah kelas kritik seni rupa (selain metopen yang susah dapet C, bahkan ada teman sampai 5 kali ngulang D terus.. hahaha)

Meski di minat utama grafis murni terutama di kelas saya kelas ini sepi dan tidak seriuh anak-anak minat utama seni lukis.
Iya, di seni lukis berkesenian adalah pilihan hidup mati,sedangkan anak grafis murni, pemikirannya sedikit beda. Kalau ga bisa jual karya ya jual ilustrasi,bikin kartun kirim ke media, atau jadi tukang layout buku (maka anak grafis murni bisa dipastikan paling melek teknologi dibanding anak lukis atau patung) Anak grafmur punya "payung cadangan" kalau di ibaratkan penerjun, dan itu tidak haram.
Sedangkan anak lukis pilihan hidupnya ya bertumpu jualan karya lukis. Titik (mural waktu itu belum jadi alternative nyari duit dan bisa di duitin)
Untuk bisa jual karya lukis, ya harus bagus karyanya. Salah satu ukuran bagus untuk anak lukis, ya harus punya ciri khas (gaya pribadi) juga soal ukuran dan jumlah karya (produktifitas membuat karya)
Jangan heran kalau main ke studio anak lukis tahun 90 an akan terlihat bertumpuk-tumpuk karya di jejer memenuhi ruangan. Kuantitas sepenting kualitas.
Komporan seniorpun begitu, "Nggambar sak akehe"
Saya ingat banget kata mas Hardjiman almarhum, “Nek lagi duwe 10 kanvas sek muk sakmeteran yo ojo ngaku cah lukis “ kalau masih punya karya 10 kanvas dan hanya semester ukurannya ya jangan ngaku anak lukis.
Demikianlah, anak lukis adalah bucin kanvas, iya, berkarya diatas kanvas adalah investasi tertinggi serta jaminan dibeli kolektor. Nganvas adalah ibadah suci anak lukis yang didalamnya berisi doa-doa keberuntungan. payu sugih, ra payu mlongo trus mancing wae.. hehehe

Kembali ke kelas kritik seni.
Di bawah pohon beringin Gampingan1, perdebatan kelas sering dibawa keluar dan masih terasa gregetnya. Apalagi sudah didorong satu dua botol anggur atau tomi, ngobrol bisa makin meriah.
Untuk menghadapi kritik tajam dari dosen dan sesama teman, beberapa kawan bersiasat dengan memilih konsep yang susah dibantah.misalnya ada kawan yang memilih absurditas sebagai tema-tema lukisannya. Saya ingat banget dari judul-judul karyanya, “mahluk X dari negeri absurd”
modar kowe,piye arep ngritik.
Sementara yang memilih tema realitas keseharian, akan gampang sekali di jegal,baik dari visual sampai konsep naratifnya. Juga yang main-main surealisme, dosen enak banget mencecar konsepnya.
Sementara itu, sebagai makhluk visual, anak seni murni tentunya rata-rata lebih fokus pada visual, tetapi lemah di pemaparan konsep karya.
Menjelas-jelaskan imajinasi visual yang sudah mucul di kanvas dalam bentuk kata-kata saat presentasi bukan hal yang mudah. Apalagi seniman kemudian identik dengan pikirannya yang suka melompat-lompat kayak pocongan. Susah berpikir terstruktur Beda dengan anak teknik/arsitek misalnya, yang tuntutan proses berkaryanya ya memang harus terstruktur, nek ora bangunane miring.

Di seni murni yang namanya ide itu seperti ilham. Kadang-kadang, atau sering mak bedunduk tiba-tiba muncul, kayak jamur tletong sapi, yang pas dicari ga nongol, eh pas lg ga butuh kok mecungul. Merangkai ide-ide itu kadang sekenanya. dan kalau diucapkan terasa pating pecotot, tidak ter struktur.

itu sering muncul di kelas saat presentasi karya.
Sudah susah ngomong, ekspresinya ngotot karena menahan emosi, perut masih kosong karena belum sarapan pula, lengkap sudah. Ditambah dosen yang sering sadis bacotnya, dan teman-teman yang waton suloyo.
Kalau di video pasti lucu banget. Sayang belum musim HP kamera waktu itu.

Tetapi semuanya selalu jadi kenangan indah saat sudah dilewati.

Mendadak saya kangen dengan kreator “makhluk X dari negeri absurd” yang akhirnya lulus cumlaude dari ISI.

Kabarnya sekarang jadi guru