kukangkangi kata-kata
kutiduri setiap abjad
kubuahi setiap malam
dengan nafsu memaki
mencerca.. menohok
melontarkan serapah
tumpah ruah
akulah penyair
mengukir setiap peristiwa
menjadi rintik hujan
yang kadang membadai
kadang liris
kadang menusuk
mematikan
akulah penyair
menggelandangi malam
menyusuri siang
dengan gelisah
dengan amarah
tak boleh nyaman
tak boleh aman
tak boleh
selalu siaga
selalu terjaga
meski lapar
meski terkapar
akulah penyair..
ya.. penyair
maka ibu mengusirku
bapak menghardikku
calon mertuwa menendangku
pacar meludahiku
teman-teman mengasihaniku
sambil nyinyir
lalu kucari lonte
kusetubuhi
dengan sisa honor kemarin
dari koran daerah
yang jelas murah
juga dari hasil ngamen
di acara LSM
yang hanya ngasih ongkos transport
tapi aku biasa jalan kaki
jadi uang itu bisa kupakai
beli wisky palsu,
juga perempuan
di pinggir jalan
akulah penyair
menyisakan hari
diwarnet murahan
memajang kata
yang sekarang ini
sedang anda baca
kutiduri setiap abjad
kubuahi setiap malam
dengan nafsu memaki
mencerca.. menohok
melontarkan serapah
tumpah ruah
akulah penyair
mengukir setiap peristiwa
menjadi rintik hujan
yang kadang membadai
kadang liris
kadang menusuk
mematikan
akulah penyair
menggelandangi malam
menyusuri siang
dengan gelisah
dengan amarah
tak boleh nyaman
tak boleh aman
tak boleh
selalu siaga
selalu terjaga
meski lapar
meski terkapar
akulah penyair..
ya.. penyair
maka ibu mengusirku
bapak menghardikku
calon mertuwa menendangku
pacar meludahiku
teman-teman mengasihaniku
sambil nyinyir
lalu kucari lonte
kusetubuhi
dengan sisa honor kemarin
dari koran daerah
yang jelas murah
juga dari hasil ngamen
di acara LSM
yang hanya ngasih ongkos transport
tapi aku biasa jalan kaki
jadi uang itu bisa kupakai
beli wisky palsu,
juga perempuan
di pinggir jalan
akulah penyair
menyisakan hari
diwarnet murahan
memajang kata
yang sekarang ini
sedang anda baca
{rs}
#posting ulang puisi lama#

No comments:
Post a Comment