1984
Kata ibuku,
konon kalau ada gagak bergaok di atas rumah, pemilik rumah itu pasti akan ada yang meninggal.
konon kalau ada gagak bergaok di atas rumah, pemilik rumah itu pasti akan ada yang meninggal.
Itu terbukti
kemarin.
Saat Gombloh, adik Kang Ngadiran meninggal.
Ada burung gagak “gaok-ghaok” di halaman rumahnya, tepatnya di atas pohon mangga.
Tak berapa lama kami mendengar kabar duka.
Gombloh memang sudah sakit lama. Tubuhnya bengkak sampai ke muka. Wajahnya jadi lucu, mirip babi.
Aku lumayan akrab dengan Gombloh.
Ia sering menunggu mangga jatuh di belakang rumahku.
Pohon mangga yang sudah meraksasa, hingga sudah di panjatnya. Akhirnya ya ditunggu
sampai buahnya jatuh sendiri. Gombloh menunggu dengan sabar.
Kadang berebut denganku, atau dengan Warsito.
Ada burung gagak “gaok-ghaok” di halaman rumahnya, tepatnya di atas pohon mangga.
Tak berapa lama kami mendengar kabar duka.
Gombloh memang sudah sakit lama. Tubuhnya bengkak sampai ke muka. Wajahnya jadi lucu, mirip babi.
Aku lumayan akrab dengan Gombloh.
Ia sering menunggu mangga jatuh di belakang rumahku.
Pohon mangga yang sudah meraksasa, hingga sudah di panjatnya. Akhirnya ya ditunggu
sampai buahnya jatuh sendiri. Gombloh menunggu dengan sabar.
Kadang berebut denganku, atau dengan Warsito.
Warsito yang rumahnya di sebelah barat rumahku pun
juga suka ngendon saat siang-siang. Lalu kami balapan saat “krosakkk” ada
mangga jatuh.
Kata orang-orang Gombloh sakit beri-beri. Makanya ia
sering dikasih makan bekatul.
katanya itu obat beri-beri. Aku sendiri tak begitu paham.
katanya itu obat beri-beri. Aku sendiri tak begitu paham.
Malam itu, kami berkumpul di perempatan jalan kampung,
di halaman rumah Yono.
Suasana ramai karena ada pertunjukan badut dan sulap.
Biasanya yang datang serombongan penjual obat keliling.
Pertunjukan itu dengan cepat menyedot penonton. Maklum desa kami terpencil. Apalagi penjual obat itu menyalakan lampu neon membuat jalanan terang benderang.
Mereka juga memakai TOA untuk menarik perhatian. Desa kami yang semula sepi dan gulita mendadak jadi ramai.
Orang berbondong-bondong merubung berkalung sarung.
Aku tentu saja ikut, bersama Mamuk kakakku. Ibu sendiri diam di rumah dengan kakek.
Suasana ramai karena ada pertunjukan badut dan sulap.
Biasanya yang datang serombongan penjual obat keliling.
Pertunjukan itu dengan cepat menyedot penonton. Maklum desa kami terpencil. Apalagi penjual obat itu menyalakan lampu neon membuat jalanan terang benderang.
Mereka juga memakai TOA untuk menarik perhatian. Desa kami yang semula sepi dan gulita mendadak jadi ramai.
Orang berbondong-bondong merubung berkalung sarung.
Aku tentu saja ikut, bersama Mamuk kakakku. Ibu sendiri diam di rumah dengan kakek.
Badut itu berdiri diatas mobil berbentuk botol.
Rupanya malam ini yang promosi jualannya adalah produk kecap, setelah kemarin
dulu obat kuat lelaki.
Tangannya memutar-mutar bola tanpa henti. Kami takjub
melihatnya. Badut satunya naik sepeda roda satu berkeliling diantara kami. Lucu
sekali polahnya. Sedangkan seorang berbadan normal berteriak-teriak
mempromosikan dagangan. Biasanya acara seperti ini akan berhenti sampai jam
sepuluh. Jam yang sangat larut untuk anak-anak macam kami. Tetapi berhubung
malam minggu, tak apalah.
Saat sedang asik-asiknya promosi, tau-tau Wak Cokro
mendekat. Pasti ada sesuatu nih.
Benar saja, Wak Cokro mengabarkan kematian Gombloh. Tentu
saja acara promo dihentikan. TOA yang bersuara nyaring itu jelas-jelas
mengganggu suasana duka. Tentu saja kami kecewa dan berteriak.. “Huuuu”
Kami anak-anak kemudian berhamburan pulang, padahal
masih jam delapan. Yang tua bergegas ke rumah Gombloh melayat. Menyiapkan pemakaman
mulai dari memandikan jenazah, menyiapkan tempat untuk para takziah dan hal
lain terkait persiapan pemakaman.
Gagak yang sesorean "bergaok-gaok" di atas rumah Gombloh tadi
benar. Tetapi kok ya harus pas ada pertunjukan yang jarang-jarang di kampung
kami.
Mengganggu kesenangan aja.
Mengganggu kesenangan aja.
No comments:
Post a Comment