Seri kedua workshop bedah gerobag yang merupakan
rangkaian pameran seni rupa luar ruang, Biennale seni rupa Jakarta semakin seru
dengan cerita-cerita yang muncul saat proses workshop.
Interaksi dengan para
penarik gerobag, pemilik lapak, juga masyarakat yang menyaksikan menyisakan
cerita yang sayang kalau tidak di catat.
Di kedoya, karena jalan
masuk kami adalah warga yang sudah menjadi aktifis, yaitu mbak Yati, kami tidak
kesulitan menjelaskan apa yang akan kami perbuat.
Mbak Yati adalah korban
gusuran dari wilayah Cengkareng yang terdampar
di lapak Kedoya.
Lewat mbak Yati pula kami
mendapatkan gerobag-gerobag yang siap lukis, bahkan menemukan bakat-bakat
terpendam yang ternyata ada di dalam
lapak. Salah satunya sebut aja Si mamang, adik dari Ibu Mamah, kawan karib mbak
Yati dari sejak di Cengkareng. Mereka juga seperjuangan saat melawan
penggusuran, bahkan sempat tinggal hampir setahun di Komnas
HAM.
Si Mamang awalnya
terlihat malu saat kami menggambar gerobag di taman Kedoya. Karena gerobagnya
termasuk yang ikut di gambari, akhirnya si Mamang turun tangan juga. Apalagi melihat
kami kewalahan menaklukkan empat gerobag yang kami keroyok berempat.
Si mamang lalu beraksi. Figur
yang suka digambarnya ternyata adalah tokoh kartun. Yang disukainya adalah
Donald bebek. Ahayy.. dengan mencontoh sebuah sepanduk warung mie ayam yang
emmajang kartun Donald, si Mamang bergerak cepat. Tangannya menari membenuk figur
Donald dengan cepat lalu mewarnainya.
Saya sendiri di
sampingnyamendapat “orderan” dari Bang Aji, pemilik gerobag untuk menggambar
ondel-ondel. Lagi-lagi kena ondel-ondel saya. Sebelumnya di saung manggar juga
ada yang minta ondel-ondel.
Tetapi, lama-lama Bang
Aji mulai berani rikues. Beliau minta gerobagnya bertuliskan protes. “Jakarta
Keras coy!” demikian awal permintaannya. Lalu di susul kalimat panjang yang
harus saya catat, biar tidak salah. Saya minta Santo untuk mencatat.
“ Aye anak betawi. Aye korban gusuran. Daripada
nganggur lebih baik mulung. Jakarta keras Coy!”
Demikian rikues kalimat dari Bang Aji yang kan dituliskan di
badan gerobagnya.
Lalu Kalimat protes
lainnya meluncur. Terutama di hari kedua workshop gerobag di Duri Kepa.
Ada satu gerobag yang
menitip tulisam “Hukum Mati Koruptor!”
“Warga negara Bukan
Angka2!”
Gerobag curhat kemudian
menjadi gerobag protes.
Meski ada juga yang pesan
kalimat penyemangat semisal “Kerja Keras Siang malam”
Yang beda adalah pesanan
Mas Pur, salah satu pemilik lapak.
Karena baru saja mengalami kecelakaan, Mas Pur pesan dibuatkan
gambar wayang. “Skalian di ruwat”, katanya. Walah, ini lagi ada gerobag
ruwatan.
Semua coba dipenuhi. Untung
di saat kami kewalahan karena tenaga ilustrator terbatas, ada tenaga bantuan
menggambar datang. Si mamang muncul membantu kami. Dibantu David dan Rizki,
bahkan bu Mamah dan Mbak yati ikut rame-rame menggambar.
Keterlibatan warga untuk
ikut menggambar itulah yang kami harapkan. Kalau bisa sih semua digambar oleh
warga sendiri.
Kami tinggal semacam
supervisi, sambil membenarkan sana-sini agar terlihat tetap apik dan
warna-warni.

No comments:
Post a Comment