Diawali iseng di lapas
anak Tangerang delapan tahun yang lalu, tahun 2006 bersama kawan-kawan
sahabat andik (sahabat anak didik, sebutan untuk anak penghuni penjara) PKBI.
Mengajak para penghuni
penjara iseng corat-coret diatas kertas bekas, membuat gambar komik
curhat.
kemudian gambar itu
lagi-lagi iseng dipamerkan, Kemudian iseng dikumpulkan lalu dijadikan buku.
lalu keterusan mencetaknya sampai ada lima
buku kompilasi, dari yg sebagai katalog pameran sampai buku beneran.
Loncat ke lapas anak
lain, bahkan sampai mampir di Palembang.menggambar komik lagi, jadi buku
kompilasi komik lagi.
Diselingi cerita
anak-anak yang sempat mampir di rumah, sesaat setelah bebas dari lapas karena
banyak faktor.
Ada yang tak
tahu jalan pulang, ada yang masih bermasalah dengan keluarga dan lingkungannya.
Sampai terbentuk komunitas RTJ (rumah tanpa jendela) pada tahun 2007 yang terinspirasi dari rumah kontrakan yang nir jendela. inisiatif membuat komunitas ini muncul dari kawan-kawan sendiri. Ya, kami saling menginspirasi.
Tak sekedar singgah, lagi-lagi iseng membuat workshop komik curhat keliling dari sekolah ke sekolah untuk kampanye "jangan sampai masuk bui" yang di fasilitasi oleh beberapa anak lulusan penjara anggota RTJ, yang sebagian sekarang sudah berumah tangga, dan hidup selayaknya manusia pada umumnya.
Juga kerja seni
bersama, dalam satu tim kerja RTJ.
Menghembuskan energi bahwa seni itu bukan sekedar kerja individu, tetapi juga bisa dikerjakan secara berkelompok lalu menginspirasi masyarakat lain untuk bersama-sama menghasilkan karya kreatif.
Menghembuskan energi bahwa seni itu bukan sekedar kerja individu, tetapi juga bisa dikerjakan secara berkelompok lalu menginspirasi masyarakat lain untuk bersama-sama menghasilkan karya kreatif.
Seni untuk seni
harusnya sudah basi. Seni adalah gerakan bersama untuk kebaikan dan
kebermanfaatan.
Lewat komik kami tak
hendak melahirkan hero macam superman atau iron man, bahkan si buta dari gua
hantu.
Lewat komik kami
berkeluh kesah membuang energi negatif, lalu mencari solusi. tidak menunggu
pahlawan yang akan membereskan segalanya, karena itu pembodohan.
Komik selain media
curhat juga menjadi media edukasi yang mudah dan menyenangkan.
Saat ini sedang coba
di buktikan kala ada tawaran untuk meng-aplikasikan komik curhat sebagai
media belajar konservasi yang memudahkan&menyenangkan.
Kesempatan itu muncul
di bumi sumatera, di jambi tepatnya.
Disini kami berkumpul
lagi, membentuk tim kecil bernama kawan imau, yang
berikhtiarmengkampanyekan penyelamatan harimau lewat sekolah.
Sekolah yang
berbatasandengan kawasan hutan tepatnya.
Sampai kemudian tim
kecil ini blusukan di sekolah-sekolah yang berbatasan dengan kawasan
hutan.
Mengajak adik-adik
siswa SMP curhat lewat komik. Bercerita lalu menuliskan cerita keseharian
mereka yang tinggal berbatasan dengan kawasan hutan, yang pasti tak jauh
darihabitat si raja hutan.
Setelah komik dan
tulisan terkumpul, lalu dibukukan dan disebarkan ke kawan yang lain, yang
semoga tergugah untuk sama-sama bergerak menyelamatkan satwa langka
yangterancam habitatnya ini (Harimau sumatera)
Sekali lagi, kita tak
bisa menunggu super hero datang lalu menyelamatkan, Karena itu
pembodohan.
Kerja bersama yang jadi
solusinya. Komik menjadi alatnya.
Sedari kecil harus
ditanamkan kesadaran untuk bekerja sama, bukanny asik dicekoki cerita-cerita
fantasitentang pahlawan penyelamat bumi.
Komik akan lebih
bermanfaat saat dijadikan sebagai media untuk penyadaran, bukan dengan
mereka-reka pahlawan kesiangan.
Setidaknya itu pendapat
yang menjadi semangat kami
Sudah saatnya superhero
mati. Diganti kerja keras bersama-sama yang muncul dari hati.
(jambi | agustus |
2014)
No comments:
Post a Comment