Ada dua karakter pendampingan yang selama ini saya tahu:
-Mendampingi untuk
memobilisasi
-Mendampingi untuk
memberdayakan
Pertama, Mendampingi untuk
memobilisasi
biasanya dilakukan dengan cara, pendamping/aktivis memberi asupan informasi kenapa warga sampai menjadi korban. Lalu apa saja masalah yang merugikan korban. Masalah muncul dan disebabkan oleh siapa.
biasanya dilakukan dengan cara, pendamping/aktivis memberi asupan informasi kenapa warga sampai menjadi korban. Lalu apa saja masalah yang merugikan korban. Masalah muncul dan disebabkan oleh siapa.
Dari informasi itu korban akan jadi lebih tahu dan sadar kondisinya, lalu bangkit semangat untuk melawan. Setelah kesadaran melawan bangkit, korban akan dikerahkan untuk melawan oleh pendamping/Aktivis.
Di titik ini, korban
berfungsi sebagai obyek yang diarahkan oleh pendamping/Aktivis.
Korban digerakkan tanpa
sepenuhnya sadar dengan aksi yang diakukannya. Korban bisa jadi sadar dengan niat dan aasan untuk melawan, tetapi mereka tidak paham dengan bagaimana caranya melakukan perlawanan ketika harus dilakukan sendiri tanpa bantuan pendamping.
Mereka akhirnya menjadi pion-pion yang digerakkan oleh pendamping.
Mereka akhirnya menjadi pion-pion yang digerakkan oleh pendamping.
Tingkat ketergantungan korban atas pendamping sangat tinggi.
Saat pendampingan selesai, biasanya selesai juga perlawanan dari para korban.
Yang kedua, pendampingan
yang memberdayakan
Posisinya, pendamping/
aktivis akan menjelaskan, kenapa warga menjadi korban, lalu mengupayakan bagaimana
caranya melawannya.
Pendamping akan
mengajarkan strategi perlawanan. Mulai dari strategi menghimpun sesama korban,
strategi komunikasi menghadapi musuh, strategi menginformasikan kondisi korban
secara mandiri lewat berbagai media, baik media sosial atau cetak. Strategi mengangkat
tema & cara perlawanan,
Juga strategi menggalang
dana untuk perlawanan.
Di posisi ini pendamping
akan berada di belakang. Yang bergerak adalah warga sendiri.
Warga korban menjadi mandiri untuk pada waktunya akan bergerak tanpa perlu pendamping dari luar.
Warga korban menjadi mandiri untuk pada waktunya akan bergerak tanpa perlu pendamping dari luar.
Hasil akhir. Korban yang
bergerak melawan.
Saya memilih yang kedua.
Kenapa saya menulis ini?
Yah, ini sebagai jawaban untuk diskusi di FB saya barusan dengan Dodok Jogja, yang mendampingi Korban Lapindo di Porong, Sidoarjo.
Setidaknya, "otot-ototan" di FB tidak sia-sia, karena saya akhirnya harus berpikir untuk membuat tulisan di atas
:)
No comments:
Post a Comment