Norman, tentara muda yang
awalnya adalah seorang jurnalis itu terlihat kuyu.
Penugasan sebagai asisten
pengendali tank adalah neraka baru baginya.
Bergabung dengan para
tentara Amerika yang sudah gila dibawah kendali Don Collier membuatnya harus
menyesuaikan diri dalam banyak hal. Tentara yang sudah menjadi segerombolan
makhluk buas demi kemenangan dan keharusan mempertahankan nyawa ditengah perang
dunia ke 2 melawan Jerman.
April 1945, tentara
sekutu merengsek Nazi Jerman di negaranya sendiri. Sebuah pekerjaan yang tidak
mudah. Apalagi tentara SS adalah
geromboan serigala tangguh yang tak mudah dikalahkan. Persenjataan Jerman juga
yang terbaik di jamannya.
Maka, perjuangan
gerombolan Koboi Amerika ini menjadi terlihat menarik dan dramatis.
Bersama rekan lainnya, Boyd
Swan sang penembak jitu, Grady Travis sang montir dan Trini Garcia sebagai
supir tank, mereka bahu membahu berbaris diantara pasukan tank Sherman buatan Amerika
lainnya. Mencoba menghadang Tank-Tank Jerman yang nyata-nyata lebih canggih dan
tangguh.
Selain soal teknologi
pembunuh, perang juga mengajarkan bagaimana membunuh perasaan. Norman yang
masih menyisakan banyak tempat untuk rasa iba, dihadapkan pilihan sulit saat
melihat segerombolan bocah jerman yang ternyata sudah di setting menjadi pembunuh berdarah dingin.
Keterlambatannya menembak bocah-bocah itu mengakibatkan kerugian di kelompoknya.
Sebuah Tank di ledakkan oleh bocah-bocah itu. Karuan saja membuat Serman
menjadi bulan-bulanan komandannya, Don Collier, serta rekan lainnya.
Mental Norman yang
dianggap belum tangguh dan buas, dibentur-benturkan. Seorang tentara SS menjadi
tumbalnya. Don Collier memaksa Norman menembak tentara Jerman dengan sebuah
pistol. Norman melawan. Terjadi pergumulan sengit, sampai akhirnya Norman kalah
dan tangannya dipaksakan meletuskan senjata. Pembunuhan pertama telah
dilakukannya.
Dilanjutkan pembunuhan-pembunuhan
berikutnya dalam drama peperangan nan sadis, dimana darah dan tubuh manusia
berceceran di segala tempat.
Membunuh dan membunuh,
jangan sisakan belas kasihan.
Manusia menjadi mesin pembunuh paling sempurna.
Manusia berjenis kelamin laki-laki tentu saja, karena dalam perang, perempuan hanya pajangan, kalau tidak ya menjadi korban.
Manusia menjadi mesin pembunuh paling sempurna.
Manusia berjenis kelamin laki-laki tentu saja, karena dalam perang, perempuan hanya pajangan, kalau tidak ya menjadi korban.
Saat pasukan Norman
sampai di sebuah kota kecil, tentara-tentara buas itu melampiaskan nafsunya,
apalagi kalau tidak kepada perempuan.
Norman menjadi
pengecualian, ia melibatkan perasaan.
Saat bertemu Emma dan
saudaranya di sebuah rumah yang terlihat mewah, Norman jatuh cinta lalu
bersenggama dengan Emma. Mereka bercinta dengan sepenuh hati. Melahirkan cinta
yang haram hukumnya untuk tentara yangs edang menjadi pesin pembunuh.
Itu terbukti, sebuah
serangan udara menghancurkan cinta Norman terhadap Emma.
Saat rumah Emma hancur
menjadi puing akibat rudal dan bombardir pesawat udara, Emma terlihat tanpa
nyawa diantara puing rumahnya.
Karuan Norman histeris,
menangisi kehilangan dan sisa-sisa rasa kemanusiaannya. Dengan kasar Grady
menyeretnya sambil mengumpat-umpat.. “ini perang bung!!”
Lalu mereka berjibaku
lagi di dalam Tank untuk menyelesaikan misinya, mengamankan suatu daerah dimana
tentara US akan masuk.
Perang berlanjut, kematian
ditebar semena-mena. Itulah sejarah manusia. Seperti ujar Don
Collier kepada Norman, “Ideologi penuh kedamaian, sejarah penuh dengan
peperangan”, dan pembantaian tentu saja.
Perang pun membutuhkan
pembenaran. Seperti ujar-ujar sang pengkotbah Boyd Swan, bahwa ini perang suci
untuk kemanusiaan. Bahwa tuhan selalu bersama orang beriman, bahwa dan bahwa lainnya
merujuk pada alkitab yang seperti sudah tertulis di kepalanya. Meski sering di
cemooh Don dan Grady.
Perang bisa jadi membunuh
“Tuhan’ karena mereka seakan menjadi “tuhan” untuk dirinya sendiri. Kuasa hidup
dan mati ada ditangan mereka.
Urusannya adalah lengah
atau waspada. Juga keberanian untuk menjadi buas dan bernyali keras. Lalu mereka jibaku sampai
akhir. Sampai akhirnya dihancurkan oeh sebatalyon tentara SS yang mereka
jumpai.
Menyisakan Norman yang
secara ajaib bisa selamat. Namanya juga film.
Demikian dongengan
Hollywood dalam “Fury”
Film yang seolah meneguhkan
dominasi Amerika sebagai koboi dunia, juga sebuah upaya untuk membuat
propaganda bahwa mereka benar-benar perkasa.
Kalau dalam kenyataannya tank-tank Sherman tak berdaya
menghadapi sang “harimau” Jerman, itu bisa dimanipulasi.
Digambarkan dengan teknologi
animasi terkini, betapa si “Fury” Tank
penuh amarah yang dikendarai oleh Don dan kawan-kawan jibaku menghancurkan
tank-tank Tiger milik Jerman yang lebih canggih.
Agar terlihat logis, dikesankan
bahwa dalam perang tidak cukup
kecanggihan teknologi, tetapi “siapa manusia dibalik senjata”.
Tentara Jermanpun
terlihat dungu tanpa strategi lalu jadi bulan-bulanan dengan bodohnya.
Secara keseluruhan film
ini menghibur. Keinginan untuk menggambarkan kemarahan terlihat berhasil. Alur
penggambaran Norman, dari seorang yang lemah lembut menjadi prajurit buas
berhasil memancing emosi, terutama emosi saya sebagai penonton.
Sambil berjalan keluar
dari bisokop tiba-tiba saya mengguman, “Di dalam perang, amarah adalah amunisi sesungguhnya”
.
No comments:
Post a Comment