Sambil menyantap nasi goreng berdua yang saya titip beli
sama si Iyat, saya iseng bertanya-tanya, bagaimana bisa sampai Jambi
dari Majalengka.
Iyat lalu bercerita, selepas lulus SMA tahun 2010 Iyat sudah
tidak betah di kampung.
Keinginannya hanya satu: kerja!
Keinginannya hanya satu: kerja!
Lalu mengalirlah cerita yang bisa jadi menimpa banyak orang
yang merantau. Mulai dari ditipu teman, sampai cerita tentang pekerjaan yang
tidak memanusiakan pekerjanya.
Awalnya Iyat diajak teman sekampungnya ke Jakarta, (Jakarta,
bukan tempat lain) untuk bekerja di pabrik. Agar bisa masuk, diprasyaratkan
membayar 1,3 juta oleh temannya.
Iyat setuju lalu bilang ke bapaknya minta
modal kerja.
Setelah susah payah mengumpulkan uang, akhirnya di dapat juga uang
sejumpah 1,3 juta yang lalu di serahkan ke temannya. Iyat sendiri bawa bekal
empatratus ribu untuk modal makan. Tiket bis ditanggung teman Iyat.
Lalu pergilah Iyat mengikuti temannya.
Merantau untuk
memperbaiki nasib ke Jakarta.
Ternyata eh ternyata, yang ia tuju adalah ke Jakarta coret.
Ya tujuan teman Iyat ternyata ke Tangerang.
Karena niatnya
kerja ya Iyat oke saja. Yang penting dapat kerja. Itu saja.
Di Tangerang Iyat sementara diajak tinggal di kontrakan
temannya yang sempit.
Sambil menunggu panggilan kerja.
Menunggu, menunggu dan menunggu. Sampai lewat seminggu
pekerjaan yang dijanjikan tak juga datang. Sementara itu rumah kontrakan yang
sempit bertambah sempit karena keluarga teman Iyat datang dari kampung. Menyusul anak dan istrinya masuk ke kontrakan mereka.
Teman iyat sendiri yang awalnya sering kelihatan di rumah kabur-kaburan tanpa memberi kejelasan pekerjaan yang sebeumnya ditawarkan ke iyat.
Teman iyat sendiri yang awalnya sering kelihatan di rumah kabur-kaburan tanpa memberi kejelasan pekerjaan yang sebeumnya ditawarkan ke iyat.
Sementara uang untuk memperlicin pekerjaan sudah
diserahkan.
Selewat dua minggu di kontrakan teman Iyat, sudah tak tahan.
Apalagi rumah yang makin sempit, bahkan mau tidur saja susah.
Tetangga kontrakan Iyat yang tinggal di kolong atas sampai iba,
dan menawarkan tempat.
Tetapi masuknya saat malam, biar tidak ketahuan tetangga
yang lain. Maklum tetangga itu perempuan.
Karena terpaksa iyat mau.
Tetapi, lama nebeng juga bikin
hati makin gondok. mana pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung ada panggilan.
Seminggu nebeng di tetangga, lalu Iyat memutuskan pulang.
Itupun setelah dapat pinjaman dari tetangga untuk beli tiket
bus.
Saat mau pulang, tiba-tiba ada orang yang menawarkan iyat
kerja.
Katanya ada perusahaan meubel Korea butuh tenaga banyak.
Tanpa pikir panjang Iyat menyanggupi.
Maka bekerjalah Iyat di perusahaan Korea itu.
Pekerjaan yang benar-benar memeras tenaga iyat.
Pekerjaan yang berlangsung tanpa kontrak, padahal dengan
perusahaan asing.
Pekerjaan yang bisa jadi ilegal karena semua unsur terkait
standar pekerjaan tidak dipenuhi.
Mulai dari uang makan, uang lembur, apalagi
jaminan kesehatan. Semua enol. Semua tergantung kebaikan sang mandor.
Ironisnya
perusahaan seperti itu banyak
beroperasi di indonesia.
Memanfaatkan ketidak tahuan serta kebutuhan akan
pekerjaan, mereka memeras tenaga kerja indonesia dengan semena-mena.
Dari berita, konon perusahaan Korea yang legal saja sudah
ada sekitar 5000an di Indonesia. ditambah yang ilegal pasti lebih banyak.
Lama-lama Iyat tak kuat juga. Selain pekerjaannya menguras tenaga, modal hidup juga sudah habis. Pernah Iyat sehari hanya minum esteh manis. Harus manis untuk menambah tenaga. Makan nasi sehari sekali saat malam. Itupun beli satu bungkus dimakan berdua dengan teman sekontrakan Iyat yang juga teman sekampung.
Belum sampai sebulan Iyat tidak sanggup dan keluar.
Belum sampai sebulan Iyat tidak sanggup dan keluar.
Untung di perusahaan itu gaji dibayar mingguan. (masih bilang untung ya, karena masih menerima upah :P)
Setelah menerima gaji Iyat langsung cabut.. Caoo...
Lalu keliling-keliling lagi cari kerja.
Eh ada yang nawarin bekerja di pabrik roti rumahan.
Lalu keliling-keliling lagi cari kerja.
Eh ada yang nawarin bekerja di pabrik roti rumahan.
Mulailah petualangan bari iyat bekerja di pabrik roti.
Menggiling tepung, membentuk adonan dan memanggang. Semua
dikerjakan dari jam enam sampai jam enam.
Gajinya? 200 ribu rupiah bersih, makan tiga kali dan tidur ditanggung pemiik pabrik roti.
Setidaknya untuk urusan perut dan papan Iyat aman.
Buktinya ia bisa bertahan hampir satu tahun.
Oh ya, gaji 200 ribu itu di tahun 2011 lho ya.. Catat!.
Sangat jauh dibawah UMR yang sudah tembus dua juta di Tangerang tahun itu.
Sangat jauh dibawah UMR yang sudah tembus dua juta di Tangerang tahun itu.
Tetapi namanya juga perusahaan rumahan, aturan tak bakal menyentuh
mereka. Semua tergantung kesepakatan saja. Beres.
Hampir setahun menyuntuki tepung roti membuat Iyat bosan juga.
Petualangannya berlanjut, kali ini ia masuk ke pabrik.
Beneran pabrik, yaiutu
di pabrik penenunan kapas. Iyat bekerja sebagai operator mesin.
Tiap hari menyuntuki kapas yang dipintal menjadi kain.
Mulai
dari memisah lalu memintal.
Menjadi kepanjangan mesin lah.
Itu berlangsung selama
setahun.
Di bumbui cerita tentang persaingan kerja di pabrik. Sesama
operator mesin yang pelit bagi ilmu. Ya, ilmu di pabrik adalah kunci
memperpanjang usia kontrak kerja. Maka masing-masing operator merahasiakan
kemampuannya.
Itu membuat Iyat tidak betah, lalu memutuskan keluar, sejenak pulang kampung.
Sesampai di kampung Iyat bertemu tetangganya yang bekerja di Jambi.
Dari tetangganya iniah Iyat
mendapat informasi pekerjaannya sekarang.
Ada lowongan office boy di sebuah LSM
dari London. Iyat tertarik lalu mendaftar, alhamdulilahnya diterima.
Dan betah sampai dua tahun. Sampai bertemu saya, karena salah satu tugasnya menjemput kawan-kawan yang datang dari Bogor di bandara, saat harus melakukan pekerjaan di Jambi.
Dan betah sampai dua tahun. Sampai bertemu saya, karena salah satu tugasnya menjemput kawan-kawan yang datang dari Bogor di bandara, saat harus melakukan pekerjaan di Jambi.
Lalu kami akrab, dan saya mendapat cerita di atas. Sambil makan nasi goreng, dilanjutkan ngopi dan bakar rokok.
Untuk sementara hidup
terasa indah J

No comments:
Post a Comment