Pagi yang menderu.
Orang-orang bergerak
cepat, aku dan kamu di antara mereka.
Berdesakan antri memarkir kendaraan, lalu
bergegas ke peron antri masuk stasiun.
Kemudian berpisah, kamu yang lebih
sengsara dan berat perjuangannya karena keretamu menuju Jakarta.
Sedang aku, sementara ini aku bekerja di Bogor.
Sedang aku, sementara ini aku bekerja di Bogor.
Saat jendela kereta tujuan
Jakarta terlihat sudah terbuka, terbayang seperti apa di dalamnya, sumpek panas
dan celaka.
Sedangkan arah Bogor
sebaliknya. Selain sepi, ac kereta juga masih normal karena tak terserap
riuhnya penumpang. Perjalanan bisa dilalui dengan melanjutkan tidur.
Ituah keseharian kami, seperti
kebanyakan mereka, yang bertarung di angkutan massal demi menuju tempat mencari
nafkah. Demi menyambung hidup di rantau yang memberi prasarat utama: Tak boleh
cengeng.
Hidup di rantau keras
bung. Telat bayar kontrakan bisa ditendang semena-mena.
Itu yang kemarin menimpa seorang kawan.
Ia tau-tau saja sudah ngejogrok di depan kontrakan. Hanya diam, sampai aku bertanya. Ternyata kamar kosnya “di dodos” ama pengelola kontrakan, hanya gara-gara telat membayar rumah petak tiga hari. Tiga hari bayangkan. Betapa kejamnya rantau ini.
Itu yang kemarin menimpa seorang kawan.
Ia tau-tau saja sudah ngejogrok di depan kontrakan. Hanya diam, sampai aku bertanya. Ternyata kamar kosnya “di dodos” ama pengelola kontrakan, hanya gara-gara telat membayar rumah petak tiga hari. Tiga hari bayangkan. Betapa kejamnya rantau ini.
Padahal ia hampir setahun
di kontrakan itu. Selama ini baik-baik saja. Entah, emak-emak yang hanya
penjaga kontrakan itu (bukan pemiiknya) mendadak kejam melebihi Fir’aun bahkan
Hitler. Mungkin dia sedang kena sawan, atau lagi datang bulan (tetapi ga
mungkin juga, udah 45 tahun lebih umurnya, udah masanya menopouse).
Tapi itulah cerita hidup
di rantau, kita tak bisa menerka secara cermat orang di sekitar kita, seperti
saat di kampung. Yang kadang tetangga depan rumah adalah saudara sendiri, meski
saat bagi waris juga bisa saling bacok karena meteran tanahnya tak sesuai
kesepakatan.
Selama hidup masih bergelantungan
dengan nafsu dunia, ya seperti itulah adanya.
Air hujan terasa menimpa
kepalaku yang tak bertopi, juga lupa bawa payung. Sialan hujan turun.
Inilah istimewanya Bogor.
Saat sebagian wilayah Bekasi melolong-lolong minta hujan dan tak turun juga (mungkin
Bekasi memang planet lain :P) Bogor dengan santai dihujani sampai becek
melenyek. Jalan kantor yang ada di komplek mahal pun sampai tergenang sebatas
mata kaki, yang cukup DL juga kalau memakai sepatu bagus. Bakal “ngecembong”
mirip kain pel.
Ya, namanya anak rantau,
tidak boeh cengeng, terima saja.
Hidup ini keras. Sekeras aspal
yang sedang kususuri menuju pulang. Kembali lagi menaiki CL/KRL. Tak berdesakan
karena melawan arus. Ini surga kecil bagiku. Meski kadang perasaan ini tak
sepenuhnya bisa gembira, membayangkan istriku di sana, dari stasiun Tanah Abang
kadang dari Cawang sedang “cemet” berdesakan diantara orang-orang yang lebih
besar dari fisiknya yang mungil meski tidak seupil. Yang membuatku jatuh cinta dan memutuskan
mengawininya.
“Jangan Cengeng Sayang”
(Pasti dijawab: “Gundulmu,
kamu enak melawan arus.. lha aku!”)

No comments:
Post a Comment