Awalnya aku merasa risi dipanggil dengan sebutan itu.
Selain terasa "tua" mending langsung
nama saja, kalau memang terlalu berjarak jika harus memanggilku dengan dik atau mas bahkan pak.
“Ki” sapamu di setiap kesempatan kita bertemu. Di jalanan,
di warung rokok, atau di warteg dimana kamu biasa nongkrong lama-lama
mendengarkan lagu ciptaanmu yang kau nyanyikan dengan cengkok koes plus, yang sengaja
kamu titip di warung-warung yang selama ini memanfaatkan jasamu sebagai "bank thitil" dan meminjamkan uang sebagai tambahan modal dengan bunga sesuai kesepakatan.
Sebuah model promosi baru menurutku. Meniru cara musisi nasional yang makin harus kreatif memasarkan lagunya, lewat gerai ayam goreng atau mini market. Semua di terobos demi periuk tetap mengepul.
Sebuah model promosi baru menurutku. Meniru cara musisi nasional yang makin harus kreatif memasarkan lagunya, lewat gerai ayam goreng atau mini market. Semua di terobos demi periuk tetap mengepul.
Aku juga suka mendengarkan ceritamu tentang negara-negara
sebelum republik yang sudah eksis di nusantara. Tak kalah dengan dosen atau
sejarawan, kamu akan mengoceh panjang lebar tentang sejarah Sunda Nusantara
beserta runutan pewaris yang menurut ceritamu masih ada sejak kini.
Yang paling menarik saat kau cecarkan cerita tentang kebun
cabe yang kau buat di sembarang tanah
kosong yang kau temui. Cabe rawit kau tanam di tanah samping rumah yang gagal
menjadi perumahan karena ijinnya tidak turun. Tanah seluas seribu meter yang
rencananya mau dibuat jadi sekitar 20 klaster itupun terbengkalai. Ditumbuhi alang-alang
dan cabaimu. Ya, kamu memanfaatkan tahan itu menanam sekitar 50 pohon cabai
rawit yang buahnya terlihat gemuk karena kau bungkus dengan plastik satu
persatu. Betapa rajinnya, setiap buah dibungkus dengan plastik, yang menurutmu
bisa mencegah lalat buah menyerang.
Aku jadi ingat anak-anak punk yang bersemangat hidup
berdikari itu. Yang akhirnya putus asa lalu melata di jaanan ngamen sambil
merem-merem karena matanya terlalu berat akibat alkohol atau pil murahan. Mereka harus
belajar denganmu, yang sama sekali tidak tattoan dan beranting, juga tanpa
boot.
Tapi semangat mandiri dan anarkimu keren. Mengambi alih lahan tanpa
berisik, tahu-tahu sudah membuat kebun tanaman dan panen. Kamu bercerita sehari
bisa mendapat 75ribu dari menjual cabai.
Keren kan...
Eh, tunggu dulu jadi apa hubungan tulisan ini dengan judul “ki”
yang bertengger diatas? Malah ngelantur
kemana-mana, nyindir-nyindir anak punk pula..
Ya memang aku lagi pengen ngelantur aja sih. Soal hubungan
Ki itu dengan kisanak atau kaki biarlah urusan kawanku.
Yang pasti sore terlalu cepat datangnya, jadi mari ngopi..
kreteknya jangan lupa
Depok sore-sore
No comments:
Post a Comment