Monday, December 30, 2024

Seni cetak mencetak uang


Ada beberapa peristiwa penting di tahun ini yang menarik dicatat, khususnya yang berhubungan dengan seni rupa yang mana saya adalah bagian didalamnya. Awal tahun saya gabung dgn gerombolan reunian yang berisi teman² alumni grafis murni. Mereka kumpul di Galnas membuat koloni Klangenan. Kegiatan utamanya membuat karya dengan teknik cetak tinggi.

Karena kumpulnya tiap Senin maka dinamai "Senin grafis"
Meskipun saya tak begitu aktif setidaknya gerombolan ini kembali mengentalkan darah minoritas saya, sebagai sarjana seni sablon/SSn.
Beberapa kawan lama terlihat antusias berkegiatan di pojokan galnas tersebut. Mereka membuat karya dengan sukacita. Mengisi waktu menuanya kembali kumpul dengan teman lama. Wajah² yg jaman kuliah dulu terlihat gagah sekarang tentu berubah, dan beruban. Tetapi semangat sor ringin/gampingan 1 nya masih terasa.
Beberapa kali mereka bikin workshop keliling. Meski saya tidak ikut karena masih proses penyembuhan mata.
Meski dari kejauhan saya tetap Bangga. Seni grafis masih ada. Alumninya aktif berkegiatan meski nirlaba.
Sampai kemudian ada berita yg mencengangkan saya, sekaligus membuat lumayan shock.
Di sebuah kampus Islam di suatu tempat nun jauh disana terjadi aktifitas cetak mencetak yang jauh lebih canggih, menantang adrenalin dan berbahaya. Seni cetak mencetak yang bagi kami proses yang melibatkan hati dan jauh dari laba seperti diketawain oleh mereka. Mungkin kami yang terlalu cupu sehingga tak berani berpikir sejauh mereka.
Padahal institusi yang menaungi mereka jelas² lembaga agama.
Sedangkan kami? Sering mendaku sekuler atau malah agnostik. Yang jauh dari norma agama.
Yang jelas kami kalah nyali, atau tidak punya pembenaran terhadap apa yang menjadi pilihan seperti yang mereka lakukan..
Mungkin mereka punya dalil yang membenarkan perilaku mereka sehingga segala cara dilakukan. Mungkin ada agenda lain yg dirasa penting sehingga cara itu ditempuh.
Cara yang bagi kami sangat mungkin bisa dilakukan.
Apalagi kami sekumpulan sarjana cetak mencetak.
Tetapi mencetak uang jauh dari pikiran kami.
Atau nyali ini memang seupil. Padahal kalau menuruti keadaan dan kenyataan. Keuangan diantara kamipun bisa dikatakan alakadarnya.
Masih butuh lembaran merah itu untuk menyambung hidup.
Sekumpulan sarjana ilmu agama itu mencetak uang diam² sejak tahun 2010. Bayangkan coba
Di sebuah perpustakaan kampus yang saya bayangkan berisi buku² relijies, ilmu agama beserta tafsirnya. Bahkan dipastikan ada kitab suci di dalamnya.
Mereka mencetak uang selama hampir 15 tahun dan baru ketahuan di tahun ini. Bayangkan sudah berapa nominalnya.
Sudah berapa event yg bisa mereka ongkosi dengan aktifitas itu.
Kalau di kesenian, sudah berapa pameran seni yg bisa dibiayai dengan aktifitas cetak mencetak tersebut.
Gak perlu susah² bikin proposal ke negara, demi bisa pameran.
Tak perlu negosiasi alot dgn kurator yg disetir galeri karena kita penguasanya.
Ya karena kita pemilik uangnya. Bisa seenaknya dong
Dan yg pasti, ga perlu susah² jualan karya yg tujuannya mendapat cuan, karena kita pembuat cuannya. Ha ha ha.
Ah sudahlah, sudah cukup ngelanturnya


No comments:

Post a Comment