Sunday, January 05, 2025

Puji Bagyo dan cukilan yang mengagumkan

 


Hari minggu enaknya ngapain ya?

Biasanya kalau tidak mager, saya membukanya dengan jalan pagi. Menyusuri Margonda atau bahkan lebih jauh, naik kereta ke Bogor lalu keliling kebun raya.
Tetapi akhir-akhir ini penyakit malas gerak terutama jalan jauh mulai merundung, jadi palingan saya muter-muter halaman rumah saja, diikuti rombongan the asu saya yang jelas-jelas niatnya. minta makan.
Setelah itu lanjut nyeduh minuman dan bengong.
Nah, lalu kepikiran di jam pagi menjelang siang itu saya ingin meluangkan waktu untuk mulai menulis. Minimal untuk “memberi makan” blog saya di www.rahmanseblat.blogspot.com
Menulis apa?
Saya kepikiran mau menulis tentang seniman/ perupa.
Dimulai dengan yang saya kenal dulu. Saya list ada 10 orang lah seniman yang saya kenal akrab dan sepertinya tidak akan protes kalau saya kepoin.
Salah satu alumni seni grafis yang saya suka karyanya sejak jaman kuliah adalah Puji Bagio
Puji, biasa saya panggil adalah kakak kelas saya di jurusan seni rupa murni minat utama seni grafis murni di ISI Jogjakarta
Sejak jaman kuliah, karya Puji yang realistis sering membuat decak kagum, terutama karya cetak dalamnya/ etsa.
Puji dengan gaya realisnya mampu menghadirkan Teknik cetak dalam yang berlayer. Saya pernah menghitung setidaknya ada 4 layer kedalaman yang menghasilkan karya monokrom yang kaya.
Biasanya tema yang iangkat Puji saat masih kuliah adalah kehidupan sehari-hari. Dari simbok bakul sampai tukang becak. Potret realitas sosial kebanyakan yang ia temui di hidup sehari-hari, di Jogja tentu saja
Puji mampu menghadirkan Gambaran realis dengan Teknik cetak dalam yang mumpuni, yang sayang tidak ditekuni lebih lanjut sampai kemudian dihadirkan di sebuah pameran Tunggal sebagai sebuah presentasi paripurna.
Menekuni sei grafis sebagai jurusan minoritas di tengah dominasi seni Lukis tentunya tidak mudah. Selain butuh modal dan alat untuk mencetak, seni grafis belum mendapat apresiasi yang layak oleh kolektor pada waktu itu.
Kemudian seiring waktu Puji menghilang, sepertinya ia memilih jalan lain untuk survive. Dari postingan di sosmed saya tahu beliau kerja di industri kreatif. Memilih realistis, serealis karyanya agar tetap bisa bertahan menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Sampai kemudian di tahun 2024 awal saya ketemu Puji lagi di Galnas.
Rupanya anak-anak grafis murni sudah ingin kangen-kangenan. Lalu berkumpul di acara “Senin Grafis” sebuah kegiatan cetak mencetak yang di inisiasi oleh Eko dan Arip Betawi,anak grafis Angkatan 95/96.
Senin grafis menjadi “comeback”nya Puji Bagyo.
Kali ini doi muncul dengan karya cetak tinggi dengan kualitas sangat tinggi.
Figur-figur realis Kembali ia suntuki.
Diawal penciptaan, Puji mencetak imajinasi-imajinasi seturut pemikirannya dengan visual yang tetap relaistis. Gambaran Raja Kodok yang bertahta dengan congkak diatas tumpukan tengkorak menjadi karya simbolis yang menarik.
Harusnya Galnas MEMAMERKAN karyanya puji ini daripada karya Pak Yos yang terlalu vulgar.. Upss..
saya beruntung dapat satu eksemplar karyanya
Iya, sebagai seniman, karya Puji yang berisi kritikan mampu menghadirkan satir dengan tajam dan mengena tanpa menghadirkan visual yang vulgar.
Disitu kejeniusan seniman teruji.
Karya terakhir Puji yang membuat saya berdecak kagum adalah gambar seorang anak menuntun kerbau melintasi tanah kering retak-retak dengan gambar latar pabrik yang mengepulkan polusi.
Teknik "layering" kembali muncul di visual bayang-bayang figur utama. Coba deh perhatikan.



Lagi-lagu Puji mampu menghadirkan gambaran satir cerdas yang tak terhebak menjadi vulgar dan “cetek”
Teruntuk galnas, sepertinya perlu mempertimbangkan memamerkan karya grafis murninya Puji nih.
Yang rutin mojok di Galnas mencetak karya tiap senin

No comments:

Post a Comment