pagi-pagi lewat depan warung pok Ati sudah buka, tapi pemiik warungnya tampak siap pergi ke suatu tempat.
Warung dijaga ama tukang ojek yg biasa mangkal disitu
Terlihat dari baju yang dikenakannya, pok Ati tampil maksimal. Kebaya putih selaras dengan jilbabnya.
Bang Abu suaminya juga begitu. terlihat gagah berbaju koko hitam rapi dengan peci hitam nangkring di kepalanya.
dengan naik Gocar mereka menuju acara. Semua tampak dipersiapkan secara serius.
Dandan maksimal demi merayakan Wisuda putrinya yang tahun ini lulus SMK di Kota Depok
Mendadak saya ingat tayangan video pendek yang ramai beberapa waktu lalu. Gubernur jabar Dedy Mulyadi "meroasting" warganya yang ngotot pengen merayakan wisuda. Secara profil warga yang di bully Dedy Mulyadi ga jauh beda ama kang Abu dan Pok Ati. Secara ekonomi ya kelas bawah. Hidup keseharian ya pas-pasan lah.
Tapi mereka tetaplah orang tua yang bangga dengan capaian anaknya. Meski cuma lulus SMK, ya tetaplah layak dirayakan keberhasilannya, dengan diwisuda.
Urusan setelah lulus dapat kerja atau tidak ya dipikir nanti.
Wisuda sudah jadi perayaan yang di biasakan dari awal tahun 2000an. Lulus TK sampai SMA diwisuda.
Dulu jaman saya taunya wisuda ya sarjana saja.
Mengembalikan kebiasaan wisuda cukup pas setelah luus kuliah ya tak bisa secara instant. Cita-cita KDM mungkin baik, tapi caranya menyakiti perasaan.
Saya masih terkesan tadi melihat Bang Abu dan Pok Ati sumringah. bahagia akan mendatangi wisuda anaknya. Itu kebahagiaan yang tak terbeli

No comments:
Post a Comment