Showing posts with label catatanpendek. Show all posts
Showing posts with label catatanpendek. Show all posts

Sunday, May 18, 2025

ngeblog dan perkara rumit yang sering tiba-tiba muncul

 Ada kawan lama tiba-tiba chat. Cerita sedang pusing gara-gara belum bisa moveon dari kekasihnya yang sepertinya tidak mungkin di tengok lagi, karena sudah menjadi masa lalu. 

Kawan saya ini perempuan, di mata saya seorang yang mandiri. Pergerakannya gesit. Beberapa waktu lalu ia merantau menjadi "pendatang gelap" di sebuah negara di asia. Bekerja dan wisata sepertinya menjadi pilihan hidupnya. Nyalinya saya akui besar. Saya aja sebagai kawan kadang ketar-ketir dan beberapa kali mengingatkannya. tapi dia dengan santai menyikapi kekawatiran kami, temannya yang ada di \Indonesia.

Setelah puas di Asia,  ia merencanakan pindah ke negara Skandinavia. Seperitnya sudah daapat negara yang akan ditujunya. Sementara ini ia balik ke Indonesia dan menetap di bali sembari mengurus keperluan dokumen legal. kali ini dia bukan manusia gelap lagi. hehehe

Lalu kemarin ia cerita soal perasaannya yang belum bisa melupakan teman lelaki yang ia temui di negara sebelum ini. Masih sering muncul bayangan lelaki itu, tangannya masih kepo mencari kabar secara sembunyi. Dan itu disadarinya tidak sehat.

Banyak teman di Bali yang mengingatkannya. Lupakan ya lupakan. titik. Tapi dikala gabut, keisengan itu muncul. lalu ia bertanya ke saya, harus bagaimana. \saya hanya mengingatkan, bukannya ia dulu suka menulis dan bahkan blogger yang aktif. Saat ini penulsi blog bisa dipastikan adalah mahluk langka. nah, bukannya malah menarik kalau menulis lagi. Cerita saja apa yang dirasakan. \semacam bikin jurnal lah. Jurnaling juga konon bis amembantu mengurai pikiran dan menata emosi. Itu juga yang saya lakukan melalui blog ini. Terapi buat diri sendiri. Tak peduli ada yang baca atau tidak. yang penting merilis perasaan lewat tulisan ataupun gambar.

Saya merasakan sendiri, ketika masih menyempatkan menulis, selain mencatat agar tidak lupa, juga membantu membuat otak lebih bisa diajak berpikir tersruktur.

 Di jaman apa-apa bisa di "generate" ini, melatih otak agar tak bebal tetaplah penting. Bahkan sebenarnya kalau kita mau buat prompt dan minta toong AI kalau tidak punya bekal menulis yang baik, Promptnya pasti jelek, dan hasilnya tak seperti yang di harapkan.

jadi menulislah kawan, tatalah emosi, lalu kendalikan kehidupan, Karena sebenarnya hidup ini adalah perkara bagimana kita bisa mengelola emosi lalu menata pikiran. 
Kesadaran berawal dari bagaimana kita mengelola emosi bukan?


Friday, May 09, 2025

WISUDA

 pagi-pagi lewat depan warung pok Ati sudah buka, tapi pemiik warungnya tampak siap pergi ke suatu tempat.

Warung dijaga ama tukang ojek yg biasa mangkal disitu
Terlihat dari baju yang dikenakannya, pok Ati tampil maksimal. Kebaya putih selaras dengan jilbabnya.
Bang Abu suaminya juga begitu. terlihat gagah berbaju koko hitam rapi dengan peci hitam nangkring di kepalanya.
Rupanya mereka mau datang ke acara wisuda.
dengan naik Gocar mereka menuju acara. Semua tampak dipersiapkan secara serius.
Dandan maksimal demi merayakan Wisuda putrinya yang tahun ini lulus SMK di Kota Depok
Mendadak saya ingat tayangan video pendek yang ramai beberapa waktu lalu. Gubernur jabar Dedy Mulyadi "meroasting" warganya yang ngotot pengen merayakan wisuda. Secara profil warga yang di bully Dedy Mulyadi ga jauh beda ama kang Abu dan Pok Ati. Secara ekonomi ya kelas bawah. Hidup keseharian ya pas-pasan lah.


Tapi mereka tetaplah orang tua yang bangga dengan capaian anaknya. Meski cuma lulus SMK, ya tetaplah layak dirayakan keberhasilannya, dengan diwisuda.
Urusan setelah lulus dapat kerja atau tidak ya dipikir nanti.
Wisuda sudah jadi perayaan yang di biasakan dari awal tahun 2000an. Lulus TK sampai SMA diwisuda.
Dulu jaman saya taunya wisuda ya sarjana saja.
Mengembalikan kebiasaan wisuda cukup pas setelah luus kuliah ya tak bisa secara instant. Cita-cita KDM mungkin baik, tapi caranya menyakiti perasaan.
Saya masih terkesan tadi melihat Bang Abu dan Pok Ati sumringah. bahagia akan mendatangi wisuda anaknya. Itu kebahagiaan yang tak terbeli

Monday, April 21, 2025

Review film, Pengepungan Bukit Duri

 Kelar nonton film karya Joko Anwar mata saya kliyengan.

Adegan dengan pengambilan gambar gambar goyang² dan shoot maju mundur bkn mata terutama yg masih pemulihan abis operasi seperti saya jadi tersiksa. Beberapa kali saya menundukkan kepala bukan karena tidak tahan melihat adegan kekerasan yang berdarahdan sadis, tetapi karena mata terasa perih. Buat penyandang epilepsi juga harap hati² sepertinya.

Melihat film pengepungan bukit duri seperti merasakan kemarahan joko anwar merespon kondisi negara saat ini.

Distopia mulai terasa di pemerintahan Prabowo dengan kebijakan dan respon asal-asalan sang presiden yang membuan menteri selevel Srimulayni saja puyeng.
Situasi geopoliti yang karut marut menjadi salah satu penyebanya, selain kondisi keuangan negara dengan utang segunung.
iya, Film ini termasuk bergenre Distopia .
sejak awal terasa ekskalasi kekejamannya dan terus meningkat sampai di akhir film.
Buat yg tensi tinggi hati2 aj nonton..
Juga yang sedang pemulihan mata seperti saya . harusnya ada disaclaimer dari awal film, atau Joko Anwar tidak tahu bahaya film ini untuk bebrapa orang dengan kondisi tertentu?

Bisa jadi Pengepungan Bukit Duri menjadi film "terganas" diawal tahun ini.

Majjhima Patipada

 
Belakangan ini saya sering bertemu angka kembar ketika melihat jam. Minimal dua kali dalam sehari, saat melihat jam ketemu angka yang sama.

Kemudian secara kebetulan pula pagi ini di sosmed saya melintas ceramah bikku Budha tentang Majjhima Patipada atau jalan tengah.
Spontan ingatan saya menautkannya dengan pengalaman visual bertemu waktu dengan angka kembar atau kebalikan tapi angkanya sama. Misal 03-30 seperti foto dibawah.
Naluri manusia adalah otak Atik gathuk. Itu tak bisa dipungkiri ya. bhahaha. Itu terjadi saat saya coba mikir² dengan segenap asumsi yang dituntun emosi tentu saja. Ada apa ini? Kebetulan atau ada makna dibaliknya.
Apalagi diumur sekarang yang banyak hal selalu berusaha dicerna dulu.tak buru2 disimpulkan atau diabaikan.
Setelah mengendap, kemudian pikiran saya mencerna ada keterkaitan antara pengalaman visual saya (sebagai makluk yg selama ini bekerja dengan visual) dengan nilai² yang terkandung dalam kehidupan.
Banyak ajaran dan doktrin yang selama ini keluar masuk di kepala saya.
Yang pertama tentu saja doktrin keimanan sesuai agama yg saya dapat turun temurun. Nilai-nilia yang ditanamkan oleh orang tua saya sesuai pemahamannya tentu saja. Juga oleh guru² saya.
Ada yang bisa saya terima ada yg saya tolak dengan berbagai alasan.
Kemudian sejalan dengan waktu banyak pengetahuan yang masuk ke kepala saya karena saya cari atau yang secara tiba-tiba saja hadir. Seperti kebetulan. Meski dengan pemahaman saya terkait algoritma sekarang.
Tak ada yang tiba-tiba.
Tak ada yang kebetulan.
Pasti ada rekaman yang bisa saja muncul kapan saja menjadi sesuatu yang berkesan seperti baru, padahal itu adalah panggilan kembali berdasarkan apa yang sudah terinput.
Ya dengan logika algoritma sosmed lah.yang saat ini kita rasakan.
Kembali ke Majjhima Patipada atau jalan tengah.
Ia adalah konsep dalam agama Buddha yang merujuk pada "Jalan Tengah" atau "Cara Tengah" untuk mencapai pencerahan.
Cara mencapainya adalah menghindari dua hal ekstrim. Misal soal kesenangan. Jangan berlebihan saat sedang senang, sebaliknya jangan berlarut saat sedang kesusahan. Ambil tengahnya saja.
Nah, soal visual angka kembar itu saya tafsirkan sebagai petunjuk jalan tengah yang semoga jadi pedoman hidup saya sendiri saat menjalani sisa hidup ini
(ciehh. Sok tua)

Monday, March 17, 2025

LIPSTICK EFFECT

 LIPSTICK EFFECT


Adalah Leonard Lauder yang memperkenalkan istilah "lipstick effect' tahun 2001
Saat ini kala krisis melanda banyak negara termasuk Indonesia, lipstick effect' kembali terdengar.
Saat orang orang masih berusaha mencari kesenangan meski dengan barang² yang lebih terjangkau tapi tetap berkualitas.
Awalnya orang Amerika sono terutama perempuan berusaha menyenangkan dirinya disaat krisis ekonomi dengan membeli lipstik untuk menyenangkan diri dan meningkatkan mood. Jadi meski lagi susah kesenangan tetap harus diberi porsi, meski levelnya hanya sekecil lipstik.
Tentunya tak hanya lipstik, barang² kecil lainnya seperti kopi, coklat dan makanan rumahan yang limited atau produk mainan murah menjadi sasaran, yang tujuannya meningkatkan mood.
Nah, apakah lipstick effect' ini bisa menyentuh wilayah seni?
Misalnya seniman meresponnya dengan membuat karya yang lebih terjangkau harganya. Artwork kecil² misalnya.atau produk turunan semisal t'shirt dan pernik lainnya.
Saya nulis ini tidak dalam rangka mau jualan kaos lho ya.
Mata lagi tidak asik buat mendesain/ menggambar.
Hanya iseng saja, karena tangan ini gatal melihat linimasa/tiktok dilintasi konten ttg lipstick effect.
Sepertinya mood saya dikendalikan tiktok. Hahaha

ngepoin Neurosains

 


Neurosains menjadi sangat populer akhir² ini

Salah satu biang kerok yang jadi penyebabnya adalah Dokdes/ Ryu Hasan
Beliau rajin tausiyah dan membagikan pengetahuannya di sosial media,
Orang jadi paham mengenai.peran.otak yg mengatur emosi.
Orang manggut² saat diberi tahu bahwa hidup sekedar menjalani konsekwensi.
Orang jadi ngeh bahwa nyawa itu tak ada dengan penjelasan yang sederhana menyitir teori Darwin.
Meski menuai pro kontra pemikiran dokter Ryu sepertinya disambut baik oleh gen Z.
Ini menarik jika kemudian direspon jadi ide² berkesenian./ Berkarya.
Teori psikologi Sigmund Freud dengan psikoanalisanya sudah basi diganti pendekatan neurosains.
Ide² surealisme harusnya mulai beranjak meninggalkan konsep psikoanalisa,
Tak lagi berkutat dengan imajinasi alam bawah sadar atau tahayul tentang "jiwa ketok" yg pernah diaggas Sudjojono.
Karena seperti nyawa, jiwa sudah mati. Dibunuh Dokdes, eh oleh Darwin dgn teori evolusinya

Wednesday, January 06, 2021

API

 


Apa yang menjadi apimu?

Yang membuat hidupmu bergairah, nyaman dalam menjalaninya, dan bisa jadi adalah tujuan hidup.

Dulu apiku adalah ibu.
Saat aku belum paham tujuan hidup dan masih kanak-kanak. Tujuan hidupku ya hanya menghabiskan waktu bersama sosok yang memberi asi kepadaku sampai umur 4 tahun, dan membiarkanku nyaman menetek meski tanpa susu sampai umur 5 tahun.

Lalu apiku itu padam saat belum genap 10 tahun. Aku patah, dunia yang sebelumnya berwarna orange mendadak jadi biru tua. Lalu aku mulai meraba-raba. Mencari lagi api hidup. Api yang akan menjadi bara sampai waktuku habis dan meredup. Lalu Api itu kurasakan muncul dari setiap senyum orang yang kutemui. Aku nyaman melihat orang tersenyum dan membalas senyumku.

Terpikir aku harus bisa membuat orang tersenyum.

Lalu aku berusaha berbuat baik agar orang lain tersenyum.
Aku sudah muak dengan kesedihan akibat ibu yang mendadak pergi.

Hanya ingin bisa tersenyum. setidaknya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa mengajak orang lain.
Awalnya itu muncul tanpa sadar. Dari pilihan-pilihan hobi yang muncul.

Kebetulan aku suka menggambar. Mungkin dipengaruhi kakakku yang lebih dulu eksis menggambar kartun. Kakakku mengirim gambar kartunnya ke beberapa media cetak kala itu,tahun 80an akhir sampai tahun 90an. Dan lumayan bisa untuk bertahan hidup.

Akupun mengikutinya. Lebih ke upaya membuat orang tertawa, setidaknya tersenyum. Honor ya tetep perlu, sebagai tambahan uang saku.

Seiring waktu, pilihan hidup pun mengarah ke visual.
Menggambar, membuat kartun dan komik. Dari SMA/SMSR sampai kuliah di ISI. Meski belum dengan kesadaran saat ini. Aku suka menggambar, melucu lewat gambar tepatnya.
Dengan lelucon atau satir. Tidak langsung tertawa, mikir dulu. Aku suka lukisan dengan muatan satir imajinatif, macam lukisan Sudjono Kerton, JokoPekik, Marc Chagall, dan Picasso. Melihat bentuk-bentuk kubis karya Picasso itu sebuah satir anatomi yangmenggelikan.
Juga imajinasi Marc Chagall yang liar. Dari figure-figur kubisme Picasso kukembangkan karakter kartun dan komik, dari Marc Chagall kuambil cara dia membuat komposisi gaya lukis untuk menghasilkan visual yang bisa jadi untuk ilustrasi, kartun dan komik,yang kuharap jadi gaya ciri khasku.

Memaknai hal lucu pun berkembang seiring pengetahuan yang diasup kepala.
Menterjemahkan lucu sebagai proses mentertawakan fenomena yang pernah dialami dan sudah terlewat dalam hidup, lalu saat diingat menjadi hal yang menggelitik dan menimbulkan tawa, bahkan dari sepahit apapun pengalamannya salah satunya.

Lalu lahir karya satir yang bisa jadi terkesan gelap, tetapi ada sesuatu yang menggelitik  dan membuat tertawa meski sambil misuh-misuh.

Kemudian memanfaatkan medium senirupa/ komik sebagai media curhat yang harapannya bisa melapangkan hati dan menerbitkan senyuman. Kupraktekkan di penjara anak-anak Tangerang dari tahun 2005-2010 secara intens. Kemudian ke penjara-penjara lain sampai tahun 2016.

Aku menulis ini tentu ada penyebabnya. Sepagi tadi bersama istri kita melihat film animasi Disney berjudul “Soul”. Film tentang jiwa-jiwa yang diturunkan untuk bertemu raga dan menuntun takdirnya. Dikemas dalam cerita yang ringan dan lucu
Lebih jelasnya silahkan tonton sendiri di Disney+ (bukan maksud ngiklan ya)

Film yang memantik tulisan ini. Juga sebagai catatan awal tahun yang akan kuposting di rahmanseblat.blogspot.com
mau ngeblog lagi ceritanya.

Memulai dengan catatan yang semoga reflektif untukku sendiri. Semakin paham dengan tujuan hidup dan menjaga api, yang ternyata adalah senyuman.

Dari situ semua bermula, dan hidup dijalani sampai waktunya redup dan mati

 

 

  

 

 

                  

 

 


Tuesday, December 29, 2020

Depok Lawan Corona


Ini sebenarnya cerita konyol. Konyol berjamaah malahan. Diawal pandemi Corona, bulan Februari, saya diajak bergabung di WAG @depoklawancorona. Yang ngajak si mbak2 aktipis mantan anggota dprd Depok
Sahat Farida Berlian

Di WAG tersebut tergabung teman-teman yang tinggal di Depok. Beberapa merasa seperti saya, hanya numpang tidur di Depok.
Ndak punya kontribusi buat kota yg ajaib ini.
Lalu mulailah bersliweran diskusi di group. Apa yang harus dilakukan menghadapi pandemi yang diperkirakan bakal panjang. Banyak ide bermunculan liar, lalu pelan-pelan di runutkan sesuai skala prioritas. Lalu direncanakanlah aksi.
Diawali dengan memproduksi kebutuhan untuk melawan covid-19, salah satunya membuat handsanitizer yang dianggap penting dan harusnya tidak dikomersilkan. Melibatkan ibu-ibu kampung di wilayah kekuasaannya Sahat.
Dibuatlah handsantizer dari bermacam bahan yang dihimpun dari para anggota WAG. Saya ingat pernah pesan alkohol 70% di pabrik. (gerakan itu sekarang benar2 hilang karena orang lebih suka beli)
Ditengah proses produksi handsanitizer kami dpt kabar bahan baku alkohol terbatas dan lebih dibutuhkan rumah sakit.
Lalu ada ide dari mas
Pius Wisnu Trias
yang mengusulkan membuat ember portable cuci tangan. Menurut mas Pius cuci tangan dengan sabun lebih efektif dan maksimal fungsinya, meski agak repot, tapi perlu dibiasakan.
Lalu mulailah kita bahu membahu memproduksi ember cuci tangan, menggunakan bahan dari ember cat ukuran 25 kg yang kebetulan ada stoknya di lapak depan rumah. Sasaran pembagian ember awalnya di tempat umum yang ada aktifitas orang spt warung makan dan pangkalan ojek. itu di Awal Maret 2020 mulainya.
Setelah selesai lalu secepatnya di distribusikan. Awalnya respon orang agak aneh dan kikuk. lama-lama seiring himbauan pemerintah banyak yang bertanya tentang ember portable, otomatis pesanan mulai banyak. karena saya ga mau mendadak jadi tukang ember dan melupakan cita-cita dan idealisme menjadi perupa, saya sarankan supaya pada bikin sendiri. Sampai kita buatkan tutorial di yutup. hehehe
Kemudian ide bergulir lagi, kali ini
Kahfi Pongq
yang nantang kita buka lahan. Sok-sokannya untuk kedaulatan pangan.
Kebetulan disamping rumah ada lahan nganggur. Singkatnya bersama warga kita "ambil alih" sementara lahan nganggur itu. Di tempat lain beberapa kawan melakukan hal yang sama, kemudian mulai mikir apa yang akan ditanam.
Lontaran pertama adalah singkong karena dianggap bisa jadi pengganti nasi dan gampang tumbuh. Tak lama Sahat sudah dapat bibit singkong mentega dari seseorang dermawan. "Brugg' di rumah saya ditaruhin 75 batang, padahal palingan saya cuma mampu nanem 40 batang. Akhirnya sisanya saya tawarkan ke kawan lain di WAG
, dan disambut ama
Harris Malikus
yang singkat cerita datang ke RTJ.
Pas sampai doi ternyata juga bawa bibit kelor dan pepaya jepang. Awalnya saya meremehkan pepaya jepangnya, karena di kebon belakang merimbun. tetapi karena kadung sudah dikasih, saya tancap aja asal-asalan 3 batang di halaman depan.
Selang berjalannya waktu, kekawatiran kolektif kita tidak terbukti. Tidak terjadi kelaparan di dunia wabil khusus di Depok. Semua baik-baik saja, warteg masih buka, meski di sela seminggu ada yang berbagi nasi ke warga. Kita pun sempat membuat dapur umum sejangkauan tangan dan mendistribusikan sembako. Tetapi ketakutan akan ancaman kelaparan tidak terbukti, dannnn... Singkong yang saya tanam pun smapai sekarang masih tegak berdiri dengan pongahnya. Sudah lebih enam bulan padahal. Sementara kacang panjang sekali tanam dan sudah panen, terong sudah beberapa kali panen dan mulai tidak terawat.
Kolam lele sudah sekali panen lalu dibagi ke warga sekitar rumah, tetapi belum juga menabur benih lagi.
Yang tidak diduga justru daun pepaya jepang, tumbuh subur di depan rumah dan rajin saya lalap menjadi teman indomie rebus favorit penyelamat perut.
Jadi, Pandemi Corona sialan ini ternyata memaksa kita belajar dan mengakui kesalahan & kekonyolan, dalam banyak hal.
Juga secara konsisten menguji kesabaran kita terhadap hal paling mendasar dari cara pencegahannya, tetap bertahan rajin cuci tangan, pakai masker saat keluar rumah dan menjauh saat ada kerumunan.
Juga membuat saya khususnya harus rajin menjaga akal sehat agar ligat keluar dari simpang siur informasi yang datang dari manapun, termasuk pemerintah.
Ya biar tidak mengulang kekonyolan lagi. Kan malu ama appa anjing gw yg suka ngacak-acak sampah

Friday, August 14, 2020

Momok itu bernama Kritik Seni #catatansenirupa

 Pagi-pagi baca tulisan salah satu seniman kakak kelas satu angkatan, baik pas di SMSR dan di ISI jurusan seni murni, tentang proses keseniannya beserta remeh temeh yang menyertainya.

Lalu saya menulis ini:
Satu hal yang akan selalu jadi ingatan saat kuliah di ISI adalah kelas kritik seni rupa (selain metopen yang susah dapet C, bahkan ada teman sampai 5 kali ngulang D terus.. hahaha)

Meski di minat utama grafis murni terutama di kelas saya kelas ini sepi dan tidak seriuh anak-anak minat utama seni lukis.
Iya, di seni lukis berkesenian adalah pilihan hidup mati,sedangkan anak grafis murni, pemikirannya sedikit beda. Kalau ga bisa jual karya ya jual ilustrasi,bikin kartun kirim ke media, atau jadi tukang layout buku (maka anak grafis murni bisa dipastikan paling melek teknologi dibanding anak lukis atau patung) Anak grafmur punya "payung cadangan" kalau di ibaratkan penerjun, dan itu tidak haram.
Sedangkan anak lukis pilihan hidupnya ya bertumpu jualan karya lukis. Titik (mural waktu itu belum jadi alternative nyari duit dan bisa di duitin)
Untuk bisa jual karya lukis, ya harus bagus karyanya. Salah satu ukuran bagus untuk anak lukis, ya harus punya ciri khas (gaya pribadi) juga soal ukuran dan jumlah karya (produktifitas membuat karya)
Jangan heran kalau main ke studio anak lukis tahun 90 an akan terlihat bertumpuk-tumpuk karya di jejer memenuhi ruangan. Kuantitas sepenting kualitas.
Komporan seniorpun begitu, "Nggambar sak akehe"
Saya ingat banget kata mas Hardjiman almarhum, “Nek lagi duwe 10 kanvas sek muk sakmeteran yo ojo ngaku cah lukis “ kalau masih punya karya 10 kanvas dan hanya semester ukurannya ya jangan ngaku anak lukis.
Demikianlah, anak lukis adalah bucin kanvas, iya, berkarya diatas kanvas adalah investasi tertinggi serta jaminan dibeli kolektor. Nganvas adalah ibadah suci anak lukis yang didalamnya berisi doa-doa keberuntungan. payu sugih, ra payu mlongo trus mancing wae.. hehehe

Kembali ke kelas kritik seni.
Di bawah pohon beringin Gampingan1, perdebatan kelas sering dibawa keluar dan masih terasa gregetnya. Apalagi sudah didorong satu dua botol anggur atau tomi, ngobrol bisa makin meriah.
Untuk menghadapi kritik tajam dari dosen dan sesama teman, beberapa kawan bersiasat dengan memilih konsep yang susah dibantah.misalnya ada kawan yang memilih absurditas sebagai tema-tema lukisannya. Saya ingat banget dari judul-judul karyanya, “mahluk X dari negeri absurd”
modar kowe,piye arep ngritik.
Sementara yang memilih tema realitas keseharian, akan gampang sekali di jegal,baik dari visual sampai konsep naratifnya. Juga yang main-main surealisme, dosen enak banget mencecar konsepnya.
Sementara itu, sebagai makhluk visual, anak seni murni tentunya rata-rata lebih fokus pada visual, tetapi lemah di pemaparan konsep karya.
Menjelas-jelaskan imajinasi visual yang sudah mucul di kanvas dalam bentuk kata-kata saat presentasi bukan hal yang mudah. Apalagi seniman kemudian identik dengan pikirannya yang suka melompat-lompat kayak pocongan. Susah berpikir terstruktur Beda dengan anak teknik/arsitek misalnya, yang tuntutan proses berkaryanya ya memang harus terstruktur, nek ora bangunane miring.

Di seni murni yang namanya ide itu seperti ilham. Kadang-kadang, atau sering mak bedunduk tiba-tiba muncul, kayak jamur tletong sapi, yang pas dicari ga nongol, eh pas lg ga butuh kok mecungul. Merangkai ide-ide itu kadang sekenanya. dan kalau diucapkan terasa pating pecotot, tidak ter struktur.

itu sering muncul di kelas saat presentasi karya.
Sudah susah ngomong, ekspresinya ngotot karena menahan emosi, perut masih kosong karena belum sarapan pula, lengkap sudah. Ditambah dosen yang sering sadis bacotnya, dan teman-teman yang waton suloyo.
Kalau di video pasti lucu banget. Sayang belum musim HP kamera waktu itu.

Tetapi semuanya selalu jadi kenangan indah saat sudah dilewati.

Mendadak saya kangen dengan kreator “makhluk X dari negeri absurd” yang akhirnya lulus cumlaude dari ISI.

Kabarnya sekarang jadi guru

Sunday, July 19, 2020

JANJI



Hari ini jam 16.30 saya ada janji penting sekali. Biar ingat rasanya perlu saya tulis di tembok FB.
Iya, saya ada janji main layangan dengan si Radit sore nanti.
Bocah anak tetangga beda RT tetapi satu lorong/jln.

Beberapa kali Radit ngelongok ke kamar kerja saya lalu tanya "masih kerja om?" saya yang lagi asik mendesain cuma mengangguk. Biasanya Radit berlalu sambil nyomot permen di meja saya.

Sore kemarin Radit tanya ke Nana, istri saya yang sedang diluar rmh, "Tante, om Maman besok kerja tidak?"
Saya tentu saja mendengar. "Ya tanyalah dit. Buat janji ama om Maman, nanti pasti diatur jadwal kerjanya"
Saya ngakak dalam hati. Tidak lama kepala Radit nongol, lalu bilang "Om besok sore bisa kan maen layangan?" Saya sok pura2 berpikir, "Bisa sih dit, tapi jam empat lebih ya" kata saya sok kayak orang penting.
"horee, bisa tante jam setengah empattt" teriak Radit sambil lari kebawah melewati Nana. Lah.. kok jadi setengah empat... hahaha
Iya, Radit pertama kali bisa menerbangkan layangan karena saya ajari. Wajahnya cerianya saat layangan mengangkasa, lalu terbahak kegirangan. Kayaknya malam saat tidur mengigau dia.
Itu sebabnya ia nyaman maen layangan dengan saya.
Dan yang pertama bisa jadi selalu berkesan.
Lalu saya ingat dulu pertama kali bisa cebok yang ngajarin saya bukan orang tua atau kakak. tetapi tetangga rumah, namanya Mas Wikan. Beliau ngajari saya simpel. Tangan kanan di depan pegang gayung. tangan kiri ke belakang pegang pantat. guyur gosok-gosokk..
dan itu jadi pengalaman yang akan selalu saya ingat. Bisa jadi demikian dengan Radit. Saat besar nanti kala dia liat layangan terbang, ada seseorang yang diingatnya. Bukan orang tua, tetapi tetangga dekat rumah masa kecilnya
.
Oh iya,satu lagi yang Radit tau dari saya, cara menyalakan korek kayu batangan

LOGIKA ALAM


Timun suri ini tumbuh di kebon kosong tanpa perawatan. Kebon yang tiap sore jadi tempat saya main layangan dengan anak-anak tetangga.
Bisa jadi bijinya dibuang semena-mena saja, tetapi hasilnya pohon tumbuh subur.
Padahal disekitarnya ada buangan puing dari Margocity.
Tumbuhan timun suri seperti mengejek saya yang mati-matian menanam dengan upaya perawatan yang diupayakan maksimal tetapi hasil kadang mengecewakan.
Beberapa kali menemui keajaiban terkait tanaman. dulu di kontrakan ujung, di dekat bak sampah tau2 tumbuh pohon cabe rawit yang nempel ditembok. Nyelip di retakan seperti tak sengaja. Mungkin ada yang membuang sambel masih ada biji cabe utuh. lalu tumbuh.
Pohon itu tumbuh subur tanpa penyiraman rutin dan pemupukan baik kimia maupun organik. Seperti hanya berharap pada kebaikan alam memberi hujan.
Lalu ia menjadi penyelamat kami saat lauk kurang pedas.
Dalam hidup tidak manusia, binatang atau tumbuhan selalu ada jenis mahkluk pilihan. Makhluk yang mampu bertahan survive dengan caranya sendiri, seperti menjadi contoh dari semesta. Hidup berjalan tak harus sesuai logika kita, ada logika alam yang sungguh menakjubkan.