Saturday, June 21, 2025

Graphic Memoir,komik yang mengaduk kenangan

 

 


Pada hari kamis (12/6/2025). Pameran komik Graphic Memoir di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah secara resmi dibuka

Pameran ini terselenggara hasil Kerjasama  Bentara Budaya dengan DKV IKJ dan Institut français d'Indonésie (IFI). 

Graphic memoir merupakan genre komik yang memadukan kekuatan gambar dengan narasi personal para perupa/ komikusnya.

Penonton diajak menyelami beragam cerita yang menyentuhm personal dan reflektif. 

Pameran Graphic memoir ini memberi  ruang untuk  mengeksplorasi kenangan dan cerita  perjalanan hidup yang divisualisasikan baik secara realistis/ apa adanya, maupun secara simbolik sehingga pesan yang disampaikan harus dicerna terlebih dahuku sebelum bisa di pahami oleh apresian. Ada sekitar 62 seniman dari Indonesia dan mancanegara yang terpilih melalui jalur undangan dan “open call”. 


Kisah-kisah tentang pengalaman masa kecil, masalah keluarga, kehidupan urban, hingga kisah kehilangan dan trauma dihadirkan dengan bermacam gaya visual yang khas dan unik oleh para seniman. 

Ilham Khoiri, GM Bentara Budaya & Communication Management Kompas Gramedia menyampaikan karya-karya komik yang ditampilkan  menghadirkan satu genre komik yang cenderung untuk mengembangkan storytelling versi masing-masing seniman dengan latar belakang beragam. Ada komikus yang memang memproduksi komik seperti Kurnia Harta Winata, Beng Rahadian, sampai Rahman seblat dan Emul Mulyono yang berlatar belakang seniman murni

“Karena itu, hasilnya pun bervariasi secara rupa, dan semoga semuanya menyentuh hati kita melalui pesan-pesan kemanusiaan yang lebih universal.,” ungkapnya di acara pembukaan pameran yang ramai dipadati penggemar komik.

Sambutan berikutnya dari  Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar yang hadir membuka pameran komik Graphic Memoir. “This is a very important event. This is my first time in Bentara Budaya. Dan saya di sini melihat luar biasa banget, this amazing collaboration of how comics and architecture are put together in such a beautiful place and actually tell stories,” jelasnya. 

Irene mengatakan, komik memiliki kekuatan untuk menyederhanakan pesan yang kompleks dan menjangkau semua kalangan. “These comics make it easier for people to digest. Comics also can be adaptable to all readers, karena terkadang ada keterbatasan untuk memvisualisasikan apa yang ada di dalam sebuah kata-kata—karena kita manusia yang berimajinasi. Comics capture a piece of history with accuracy, in a comical, enjoyable, and happy way,”

Pameran Graphic Memoir ini menampilkan 21 perupa komik undangan, tiga perupa komik asal Prancis dan satu komikus asal Amerika, serta 41 perupa komik dari hasil open call

Karya-karya dari seluruh seniman yang dipamerkan pada pameran ini bukan sekadar arsip visual, melainkan juga medium ekspresi yang menyentuh isu-isu lebih luas seperti identitas, ruang hidup, dan dinamika keseharian yang kerap terabaikan.

No comments:

Post a Comment