Monday, June 29, 2026

Tan Malaka: Menabur Benih Revolusi dari Bangku Sekolah Rakyat



Nama Tan Malaka lebih sering berkelindan dengan aksi bawah tanah, pelarian internasional dengan belasan nama samaran, dan jargon radikal "Merdeka 100%". 

Namun, jauh sebelum ia menjadi buronan intelijen lintas negara, pria kelahiran Suliki, Sumatra Barat ini adalah seorang pendidik tulen. Baginya, ruang kelas bukan sekadar tempat transfer ilmu yang pasif, melainkan laboratorium pertama untuk membongkar mentalitas budak dan membebaskan pikiran sebuah bangsa.

Benturan Realitas:
Dari Deli ke Semarang
Sekembalinya dari studi keguruan Rijkskweekschool di Belanda pada tahun 1919, Tan Malaka membawa ijazah formal dan pemikiran Eropa yang tajam. Ia langsung dihadapkan pada realitas pahit saat mengajar anak-anak kuli di perkebunan tembakau Deli, Sumatra Utara. Di sana, ia menyaksikan bagaimana kapitalisme kolonial mengisap manusia, dan bagaimana pendidikan formal saat itu sengaja disumbat agar para buruh tetap bodoh dan patuh.
Ketidakpuasan ini membawanya hijrah ke Semarang pada tahun 1921. Di sinilah sejarah mencatat peran besar Tan Malaka sebagai pencetus utama gerakan Sekolah Rakyat di Indonesia. Bersama Semaun, ia mendirikan SI School (Sekolah Sarekat Islam) yang kelak bertransformasi nama menjadi Sekolah Rakyat (SR)
Langkah ini bukan sekadar aksi sosial, melainkan hantaman balik terhadap Ethical Policy (Politik Etis) Belanda. Tan Malaka melihat bahwa sistem pendidikan modern ala Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sangat diskriminatif dan mahal. Sekolah kolonial dirancang bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk mencetak tiruan pegawai administrasi rendahan (penulis-penulis juru tulis) yang patuh, bermental mandor, dan siap menyokong roda birokrasi penjajah.

Membongkar Kurikulum Kolonial
Di Sekolah Rakyat Semarang, Tan Malaka membalikkan semua pakem pendidikan bentukan kompeni. Konsep pendidikan kerakyatan yang ia gagas segera merebak menjadi gerakan nasional, memicu berdirinya cabang-cabang Sekolah Rakyat serupa di Kaliwungu, Salatiga, Nganjuk, hingga Bandung. Jika sekolah Belanda memisahkan anak bangsawan dan anak rakyat jelata, sekolah bentukan Tan Malaka justru merangkul anak-anak miskin, buruh, dan tani.
Ia menciptakan model pendidikan yang mandiri dan berpihak pada rakyat:
 Aksesibilitas Total: Sekolah Rakyat dijalankan secara gratis atau dengan biaya yang sangat murah, disubsidi dari iuran anggota organisasi dan unit usaha mandiri rakyat.

 Bahasa Pengantar Rakyat: Berbeda dengan sekolah elite Belanda yang mewajibkan bahasa Belanda untuk menciptakan sekat sosial, Tan Malaka menggunakan bahasa pengantar yang dipahami rakyat (bahasa Melayu/Jawa) tanpa kehilangan bobot ketajaman berpikir ilmiah.

Demokratisasi Ruang Kelas: Hubungan antara guru dan murid diubah total. Tidak ada lagi budaya feodal di mana murid harus menyembah atau takut kepada guru. Guru adalah kawan diskusi, pemimpin yang mengarahkan pikiran mereka untuk melihat dunia secara objektif.

Melalui bangku-bangku kayu sederhana di Semarang, Tan Malaka membuktikan bahwa esensi dari revolusi tidak selalu dimulai dengan angkat senjata atau pidato di lapangan terbuka. Revolusi, bagi Tan Malaka, dimulai ketika anak-anak kaum krama mampu membaca realitas sosial mereka, mempertanyakan ketidakadilan, dan menyadari bahwa mereka memiliki hak yang sama untuk berdiri tegak sebagai manusia merdeka.

 "Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali."
-Tan Malaka-

Sunday, June 28, 2026

ketika blog dalam genggaman

Hari ini iseng mencari di PlayStore apakah ada bloger disana. 
Ternyata ada. Jadi aku bisa ngeblog lagi dengan HP. 
Oke deh, aku kucari ide mau menulis apa

Monday, July 21, 2025

Melampaui AI: Ketika Seni Manual Bertemu Jiwa Urban di Kopi Cukil

 

Selama dua hari, pada 19 dan 20 Juli lalu, Kedai Kopi Cukil di Jl. Lebak Bulus 1 ada dua lokakarya seni rupa yang begitu menarik: Kolase dan cetak cukil grafis. Acara bertajuk "Helo Juni, Pakabar Juli" ini, bagi saya, seolah menghentikan waktu sejenak.


Mengajak para pesertanya kembali menggunakan tangannya yang selama ini sudah terbelenggu gadget dan dilenakan oleh AI
Tumpukan majalah dan koran bekas berserakan. Bukan sebagai sampah, melainkan medium baru yang siap diubah. Para peserta, yang sebagian besar adalah karyawan kantor, tampak asyik memotong, merobek, dan menempelkan potongan-potongan kertas tersebut menjadi komposisi visual yang imajinatif.
Ada Lulu Ratna, menjadi salah satu pegiat lokakarya kolase tersebut, terlihat ia begitu antusias membagikan bahan.
Terasa sekali bahwa ruang itu menjelma menjadi lebih dari sekadar ajang mengasah kreativitas; ia menjadi tempat bertukar cerita, di mana keluh kesah tentang kerasnya hari-hari di Jakarta ditumpahkan dalam aktifitas seni.
Tak jauh dari sana, saya melihat adik-adik Gen Z dan Gen Alpha—dipandu oleh para fasilitator Gen Milenial, asyik dengan alat-alat cukil. Di bawah bimbingan Ibob Susu.
Mereka mengenal seluk-beluk seni grafis: mulai dari alat, bahan cetak lino, hingga jenis tinta. Coretan sederhana menjadi garis, garis menjadi bentuk, lalu dicetak di atas lembaran kertas, menciptakan jejak personal yang autentik.
Antusiasme Gen Alpha, bahkan di hari kedua yang diikuti oleh dua puluhan peserta, bagi saya menunjukkan daya tarik kerja manual yang tak lekang oleh digital. Hasilnya pun beragam, dari karakter kartun lucu hingga pesan-pesan lingkungan yang mendalam yang mereka tuangkan.
Lokakarya yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB ini digagas oleh tiga kolektif: Senin Grafis, Kumpul Kolase, dan Ibob Susu dkk yang fokus pada cetak grafis di atas kain.
Arif Hidayat, anggota kolektif Senin Grafis sekaligus koordinator acara, terlihat menjadi sosok paling sibuk di balik kelancaran "Helo Juni, Pakabar Juli." Menurut Arif, atau yang akrab disapa "Batawi," kehadiran peserta yang mencapai 30 orang di hari pertama adalah bukti nyata kerinduan akan kreasi manual.
Saya juga melihat bahwa hasil karya lokakarya ini tak hanya disimpan, namun langsung dipamerkan di selasar Kedai Kopi Cukil, berdampingan dengan karya-karya lain yang lebih dulu menghiasi dinding.
Sebuah etalase di ruang depan turut menyajikan produk merchandise menarik dari Artcukil_tshirt, mulai dari kaus, pouch, tote bag, hingga produk cetak manual lainnya.
Saat ini, mengharapkan karya seni murni bisa terbeli tentunya sangatlah berat. Oleh karena itu, siasat membuat produk turunan agar bisa lebih terjangkau oleh masyarakat menjadi strategi jitu bagi para seniman agar kehidupan dan penghidupan mereka tetap berjalan.
Bagi saya, ini adalah bukti nyata bahwa seni, dalam segala bentuknya, selalu menemukan cara untuk tetap bernapas dan terhubung dengan denyut nadi masyarakat pecintanya

Saturday, June 21, 2025

Graphic Memoir,komik yang mengaduk kenangan

 

 


Pada hari kamis (12/6/2025). Pameran komik Graphic Memoir di Bentara Budaya Jakarta, Palmerah secara resmi dibuka

Pameran ini terselenggara hasil Kerjasama  Bentara Budaya dengan DKV IKJ dan Institut français d'Indonésie (IFI). 

Graphic memoir merupakan genre komik yang memadukan kekuatan gambar dengan narasi personal para perupa/ komikusnya.

Penonton diajak menyelami beragam cerita yang menyentuhm personal dan reflektif. 

Pameran Graphic memoir ini memberi  ruang untuk  mengeksplorasi kenangan dan cerita  perjalanan hidup yang divisualisasikan baik secara realistis/ apa adanya, maupun secara simbolik sehingga pesan yang disampaikan harus dicerna terlebih dahuku sebelum bisa di pahami oleh apresian. Ada sekitar 62 seniman dari Indonesia dan mancanegara yang terpilih melalui jalur undangan dan “open call”. 


Kisah-kisah tentang pengalaman masa kecil, masalah keluarga, kehidupan urban, hingga kisah kehilangan dan trauma dihadirkan dengan bermacam gaya visual yang khas dan unik oleh para seniman. 

Ilham Khoiri, GM Bentara Budaya & Communication Management Kompas Gramedia menyampaikan karya-karya komik yang ditampilkan  menghadirkan satu genre komik yang cenderung untuk mengembangkan storytelling versi masing-masing seniman dengan latar belakang beragam. Ada komikus yang memang memproduksi komik seperti Kurnia Harta Winata, Beng Rahadian, sampai Rahman seblat dan Emul Mulyono yang berlatar belakang seniman murni

“Karena itu, hasilnya pun bervariasi secara rupa, dan semoga semuanya menyentuh hati kita melalui pesan-pesan kemanusiaan yang lebih universal.,” ungkapnya di acara pembukaan pameran yang ramai dipadati penggemar komik.

Sambutan berikutnya dari  Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI Irene Umar yang hadir membuka pameran komik Graphic Memoir. “This is a very important event. This is my first time in Bentara Budaya. Dan saya di sini melihat luar biasa banget, this amazing collaboration of how comics and architecture are put together in such a beautiful place and actually tell stories,” jelasnya. 

Irene mengatakan, komik memiliki kekuatan untuk menyederhanakan pesan yang kompleks dan menjangkau semua kalangan. “These comics make it easier for people to digest. Comics also can be adaptable to all readers, karena terkadang ada keterbatasan untuk memvisualisasikan apa yang ada di dalam sebuah kata-kata—karena kita manusia yang berimajinasi. Comics capture a piece of history with accuracy, in a comical, enjoyable, and happy way,”

Pameran Graphic Memoir ini menampilkan 21 perupa komik undangan, tiga perupa komik asal Prancis dan satu komikus asal Amerika, serta 41 perupa komik dari hasil open call

Karya-karya dari seluruh seniman yang dipamerkan pada pameran ini bukan sekadar arsip visual, melainkan juga medium ekspresi yang menyentuh isu-isu lebih luas seperti identitas, ruang hidup, dan dinamika keseharian yang kerap terabaikan.

Wednesday, May 21, 2025

Taksonomi Bloom dan logika AI

 Lagi ramai orang menyoal wapres Gibran yang di beberapa kesempatan "mengenalkan" teknologi AI dan mendorong pengajaran AI di sekolah-sekolah.

Beberapa waktu lalu, Gibran Rakabuming menerima audiensi komunitas anak muda pecinta Artificial Intelligence (AI) di Kantor Wapres, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, Jumat (28/02/2025). Dalam pertemuan tersebut, Wapres menegaskan bahwa inovasi berbasis AI merupakan salah satu pendorong utama kemajuan bangsa, sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mempercepat transformasi digital di Indonesia.

Lalu, kenapa banyak orang mempersoalkan Gibran yang seperti membabi buta soal Ai? apa yang di kawatirkan?

Selama ini banyak pengamat menilai pengembangan kemampuan berpikir siswa baik dari SD sampai SMA masih kurang.

Taksonomi bloom yang mengajarkan bagaimana cara berpikir terstruktur yang meliputi kemampuan mengingat, memahami, mengaplikasikan, lalu menganalisis dan mengevaluasi belum sepenuhnya dipelajari oleh siswa. 

Kemampuan guru untuk memberikan materi taksonomi bloom belum semua bisa menyampaikan secara mendetail dan jelas. . Kalau toh sudah disampaikan, apakah sudah semuanya, atau baru di tahapan ke berapa?  Itu yang harus di evaluasi dulu.

Untuk masuk ke tahapan logika penggunaan AI, kalau tidak didasari kemampuan mengerti dna memahami taksonomi bloom, ya akan fatal akibatnya. 

Kejaidannya dalam membuat prompt pasti akan asal-asalan. 

Contoh Mata pelajaran Desain Grafis: Dengan taksonomi bloom Siswa dapat mengaplikasikan prinsip desain grafis untuk membuat desain yang efektif, menganalisis desain yang ada, dan menciptakan desain baru. Kalau proses itu sudah bisa dilakukan, saat meminta asistensi dari Ai prosesnya akan benar dan hasil pembuatan promptnya juga lebih terstruktur.


AI adalah asisten kita, kalau perintahnya tidak tepat, hasilnya pun akan meleset dari yang diminta. Ketika bekerja dengan Ai, mental yang harus kita siapkan adalah mental manager. Mental pemimpin proyek yang paham dengan proyek yang dikerjakannya. 

Dengan pemahaman taksnonomi bloom yang mumpuni, itu bisa dilakukan





Sunday, May 18, 2025

ngeblog dan perkara rumit yang sering tiba-tiba muncul

 Ada kawan lama tiba-tiba chat. Cerita sedang pusing gara-gara belum bisa moveon dari kekasihnya yang sepertinya tidak mungkin di tengok lagi, karena sudah menjadi masa lalu. 

Kawan saya ini perempuan, di mata saya seorang yang mandiri. Pergerakannya gesit. Beberapa waktu lalu ia merantau menjadi "pendatang gelap" di sebuah negara di asia. Bekerja dan wisata sepertinya menjadi pilihan hidupnya. Nyalinya saya akui besar. Saya aja sebagai kawan kadang ketar-ketir dan beberapa kali mengingatkannya. tapi dia dengan santai menyikapi kekawatiran kami, temannya yang ada di \Indonesia.

Setelah puas di Asia,  ia merencanakan pindah ke negara Skandinavia. Seperitnya sudah daapat negara yang akan ditujunya. Sementara ini ia balik ke Indonesia dan menetap di bali sembari mengurus keperluan dokumen legal. kali ini dia bukan manusia gelap lagi. hehehe

Lalu kemarin ia cerita soal perasaannya yang belum bisa melupakan teman lelaki yang ia temui di negara sebelum ini. Masih sering muncul bayangan lelaki itu, tangannya masih kepo mencari kabar secara sembunyi. Dan itu disadarinya tidak sehat.

Banyak teman di Bali yang mengingatkannya. Lupakan ya lupakan. titik. Tapi dikala gabut, keisengan itu muncul. lalu ia bertanya ke saya, harus bagaimana. \saya hanya mengingatkan, bukannya ia dulu suka menulis dan bahkan blogger yang aktif. Saat ini penulsi blog bisa dipastikan adalah mahluk langka. nah, bukannya malah menarik kalau menulis lagi. Cerita saja apa yang dirasakan. \semacam bikin jurnal lah. Jurnaling juga konon bis amembantu mengurai pikiran dan menata emosi. Itu juga yang saya lakukan melalui blog ini. Terapi buat diri sendiri. Tak peduli ada yang baca atau tidak. yang penting merilis perasaan lewat tulisan ataupun gambar.

Saya merasakan sendiri, ketika masih menyempatkan menulis, selain mencatat agar tidak lupa, juga membantu membuat otak lebih bisa diajak berpikir tersruktur.

 Di jaman apa-apa bisa di "generate" ini, melatih otak agar tak bebal tetaplah penting. Bahkan sebenarnya kalau kita mau buat prompt dan minta toong AI kalau tidak punya bekal menulis yang baik, Promptnya pasti jelek, dan hasilnya tak seperti yang di harapkan.

jadi menulislah kawan, tatalah emosi, lalu kendalikan kehidupan, Karena sebenarnya hidup ini adalah perkara bagimana kita bisa mengelola emosi lalu menata pikiran. 
Kesadaran berawal dari bagaimana kita mengelola emosi bukan?


Friday, May 09, 2025

WISUDA

 pagi-pagi lewat depan warung pok Ati sudah buka, tapi pemiik warungnya tampak siap pergi ke suatu tempat.

Warung dijaga ama tukang ojek yg biasa mangkal disitu
Terlihat dari baju yang dikenakannya, pok Ati tampil maksimal. Kebaya putih selaras dengan jilbabnya.
Bang Abu suaminya juga begitu. terlihat gagah berbaju koko hitam rapi dengan peci hitam nangkring di kepalanya.
Rupanya mereka mau datang ke acara wisuda.
dengan naik Gocar mereka menuju acara. Semua tampak dipersiapkan secara serius.
Dandan maksimal demi merayakan Wisuda putrinya yang tahun ini lulus SMK di Kota Depok
Mendadak saya ingat tayangan video pendek yang ramai beberapa waktu lalu. Gubernur jabar Dedy Mulyadi "meroasting" warganya yang ngotot pengen merayakan wisuda. Secara profil warga yang di bully Dedy Mulyadi ga jauh beda ama kang Abu dan Pok Ati. Secara ekonomi ya kelas bawah. Hidup keseharian ya pas-pasan lah.


Tapi mereka tetaplah orang tua yang bangga dengan capaian anaknya. Meski cuma lulus SMK, ya tetaplah layak dirayakan keberhasilannya, dengan diwisuda.
Urusan setelah lulus dapat kerja atau tidak ya dipikir nanti.
Wisuda sudah jadi perayaan yang di biasakan dari awal tahun 2000an. Lulus TK sampai SMA diwisuda.
Dulu jaman saya taunya wisuda ya sarjana saja.
Mengembalikan kebiasaan wisuda cukup pas setelah luus kuliah ya tak bisa secara instant. Cita-cita KDM mungkin baik, tapi caranya menyakiti perasaan.
Saya masih terkesan tadi melihat Bang Abu dan Pok Ati sumringah. bahagia akan mendatangi wisuda anaknya. Itu kebahagiaan yang tak terbeli

Monday, April 21, 2025

Hidup

Apa yang membuat kamu masih merasa nyaman  menjalani hidup?
Iya, menjalani hidup saat ini.
Apakah dengan  mengenang satu masa dimana pernah merasakan "kejayaan hidup?" 
(ketauan banget udah tua :D)

Atau sama sekali sudah bosan dengan hidup yang "gini-gini aja?"
 
Atau dengan berkompromi, lalu menjalaninya lempeng kayak penggaris

Atau menjalani penuh antusias dengan menikmati apa saja yang ada di depan mata, bahkan mencari-cari pengalaman baru sampai ke pelosok dunia paling nyelip sekalipun?

Mendadak pertanyaan itu muncul di kepala, ditengah rutinitas yang kadang terasa menjebak. Rutinitas menjalani hidup sehari-hari sesuai komitmen yang disepakati.

Komitmen dengan pasangan hidup. 
Komitmen dengan pekerjaan yang umur kontraknya pertahun.
 Komitmen dengan pilihan hobi, misalnyamemelihara kucing ataupun anjing yang masing-maisng ada kesepakatan dan aturan mainnya.

Jadi, apayang membuat kamu masih merasa nyaman  menjalani hidup?






Review film, Pengepungan Bukit Duri

 Kelar nonton film karya Joko Anwar mata saya kliyengan.

Adegan dengan pengambilan gambar gambar goyang² dan shoot maju mundur bkn mata terutama yg masih pemulihan abis operasi seperti saya jadi tersiksa. Beberapa kali saya menundukkan kepala bukan karena tidak tahan melihat adegan kekerasan yang berdarahdan sadis, tetapi karena mata terasa perih. Buat penyandang epilepsi juga harap hati² sepertinya.

Melihat film pengepungan bukit duri seperti merasakan kemarahan joko anwar merespon kondisi negara saat ini.

Distopia mulai terasa di pemerintahan Prabowo dengan kebijakan dan respon asal-asalan sang presiden yang membuan menteri selevel Srimulayni saja puyeng.
Situasi geopoliti yang karut marut menjadi salah satu penyebanya, selain kondisi keuangan negara dengan utang segunung.
iya, Film ini termasuk bergenre Distopia .
sejak awal terasa ekskalasi kekejamannya dan terus meningkat sampai di akhir film.
Buat yg tensi tinggi hati2 aj nonton..
Juga yang sedang pemulihan mata seperti saya . harusnya ada disaclaimer dari awal film, atau Joko Anwar tidak tahu bahaya film ini untuk bebrapa orang dengan kondisi tertentu?

Bisa jadi Pengepungan Bukit Duri menjadi film "terganas" diawal tahun ini.

Majjhima Patipada

 
Belakangan ini saya sering bertemu angka kembar ketika melihat jam. Minimal dua kali dalam sehari, saat melihat jam ketemu angka yang sama.

Kemudian secara kebetulan pula pagi ini di sosmed saya melintas ceramah bikku Budha tentang Majjhima Patipada atau jalan tengah.
Spontan ingatan saya menautkannya dengan pengalaman visual bertemu waktu dengan angka kembar atau kebalikan tapi angkanya sama. Misal 03-30 seperti foto dibawah.
Naluri manusia adalah otak Atik gathuk. Itu tak bisa dipungkiri ya. bhahaha. Itu terjadi saat saya coba mikir² dengan segenap asumsi yang dituntun emosi tentu saja. Ada apa ini? Kebetulan atau ada makna dibaliknya.
Apalagi diumur sekarang yang banyak hal selalu berusaha dicerna dulu.tak buru2 disimpulkan atau diabaikan.
Setelah mengendap, kemudian pikiran saya mencerna ada keterkaitan antara pengalaman visual saya (sebagai makluk yg selama ini bekerja dengan visual) dengan nilai² yang terkandung dalam kehidupan.
Banyak ajaran dan doktrin yang selama ini keluar masuk di kepala saya.
Yang pertama tentu saja doktrin keimanan sesuai agama yg saya dapat turun temurun. Nilai-nilia yang ditanamkan oleh orang tua saya sesuai pemahamannya tentu saja. Juga oleh guru² saya.
Ada yang bisa saya terima ada yg saya tolak dengan berbagai alasan.
Kemudian sejalan dengan waktu banyak pengetahuan yang masuk ke kepala saya karena saya cari atau yang secara tiba-tiba saja hadir. Seperti kebetulan. Meski dengan pemahaman saya terkait algoritma sekarang.
Tak ada yang tiba-tiba.
Tak ada yang kebetulan.
Pasti ada rekaman yang bisa saja muncul kapan saja menjadi sesuatu yang berkesan seperti baru, padahal itu adalah panggilan kembali berdasarkan apa yang sudah terinput.
Ya dengan logika algoritma sosmed lah.yang saat ini kita rasakan.
Kembali ke Majjhima Patipada atau jalan tengah.
Ia adalah konsep dalam agama Buddha yang merujuk pada "Jalan Tengah" atau "Cara Tengah" untuk mencapai pencerahan.
Cara mencapainya adalah menghindari dua hal ekstrim. Misal soal kesenangan. Jangan berlebihan saat sedang senang, sebaliknya jangan berlarut saat sedang kesusahan. Ambil tengahnya saja.
Nah, soal visual angka kembar itu saya tafsirkan sebagai petunjuk jalan tengah yang semoga jadi pedoman hidup saya sendiri saat menjalani sisa hidup ini
(ciehh. Sok tua)

Monday, March 17, 2025

LIPSTICK EFFECT

 LIPSTICK EFFECT


Adalah Leonard Lauder yang memperkenalkan istilah "lipstick effect' tahun 2001
Saat ini kala krisis melanda banyak negara termasuk Indonesia, lipstick effect' kembali terdengar.
Saat orang orang masih berusaha mencari kesenangan meski dengan barang² yang lebih terjangkau tapi tetap berkualitas.
Awalnya orang Amerika sono terutama perempuan berusaha menyenangkan dirinya disaat krisis ekonomi dengan membeli lipstik untuk menyenangkan diri dan meningkatkan mood. Jadi meski lagi susah kesenangan tetap harus diberi porsi, meski levelnya hanya sekecil lipstik.
Tentunya tak hanya lipstik, barang² kecil lainnya seperti kopi, coklat dan makanan rumahan yang limited atau produk mainan murah menjadi sasaran, yang tujuannya meningkatkan mood.
Nah, apakah lipstick effect' ini bisa menyentuh wilayah seni?
Misalnya seniman meresponnya dengan membuat karya yang lebih terjangkau harganya. Artwork kecil² misalnya.atau produk turunan semisal t'shirt dan pernik lainnya.
Saya nulis ini tidak dalam rangka mau jualan kaos lho ya.
Mata lagi tidak asik buat mendesain/ menggambar.
Hanya iseng saja, karena tangan ini gatal melihat linimasa/tiktok dilintasi konten ttg lipstick effect.
Sepertinya mood saya dikendalikan tiktok. Hahaha

ngepoin Neurosains

 


Neurosains menjadi sangat populer akhir² ini

Salah satu biang kerok yang jadi penyebabnya adalah Dokdes/ Ryu Hasan
Beliau rajin tausiyah dan membagikan pengetahuannya di sosial media,
Orang jadi paham mengenai.peran.otak yg mengatur emosi.
Orang manggut² saat diberi tahu bahwa hidup sekedar menjalani konsekwensi.
Orang jadi ngeh bahwa nyawa itu tak ada dengan penjelasan yang sederhana menyitir teori Darwin.
Meski menuai pro kontra pemikiran dokter Ryu sepertinya disambut baik oleh gen Z.
Ini menarik jika kemudian direspon jadi ide² berkesenian./ Berkarya.
Teori psikologi Sigmund Freud dengan psikoanalisanya sudah basi diganti pendekatan neurosains.
Ide² surealisme harusnya mulai beranjak meninggalkan konsep psikoanalisa,
Tak lagi berkutat dengan imajinasi alam bawah sadar atau tahayul tentang "jiwa ketok" yg pernah diaggas Sudjojono.
Karena seperti nyawa, jiwa sudah mati. Dibunuh Dokdes, eh oleh Darwin dgn teori evolusinya

Sunday, January 05, 2025

Puji Bagyo dan cukilan yang mengagumkan

 


Hari minggu enaknya ngapain ya?

Biasanya kalau tidak mager, saya membukanya dengan jalan pagi. Menyusuri Margonda atau bahkan lebih jauh, naik kereta ke Bogor lalu keliling kebun raya.
Tetapi akhir-akhir ini penyakit malas gerak terutama jalan jauh mulai merundung, jadi palingan saya muter-muter halaman rumah saja, diikuti rombongan the asu saya yang jelas-jelas niatnya. minta makan.
Setelah itu lanjut nyeduh minuman dan bengong.
Nah, lalu kepikiran di jam pagi menjelang siang itu saya ingin meluangkan waktu untuk mulai menulis. Minimal untuk “memberi makan” blog saya di www.rahmanseblat.blogspot.com
Menulis apa?
Saya kepikiran mau menulis tentang seniman/ perupa.
Dimulai dengan yang saya kenal dulu. Saya list ada 10 orang lah seniman yang saya kenal akrab dan sepertinya tidak akan protes kalau saya kepoin.
Salah satu alumni seni grafis yang saya suka karyanya sejak jaman kuliah adalah Puji Bagio
Puji, biasa saya panggil adalah kakak kelas saya di jurusan seni rupa murni minat utama seni grafis murni di ISI Jogjakarta
Sejak jaman kuliah, karya Puji yang realistis sering membuat decak kagum, terutama karya cetak dalamnya/ etsa.
Puji dengan gaya realisnya mampu menghadirkan Teknik cetak dalam yang berlayer. Saya pernah menghitung setidaknya ada 4 layer kedalaman yang menghasilkan karya monokrom yang kaya.
Biasanya tema yang iangkat Puji saat masih kuliah adalah kehidupan sehari-hari. Dari simbok bakul sampai tukang becak. Potret realitas sosial kebanyakan yang ia temui di hidup sehari-hari, di Jogja tentu saja
Puji mampu menghadirkan Gambaran realis dengan Teknik cetak dalam yang mumpuni, yang sayang tidak ditekuni lebih lanjut sampai kemudian dihadirkan di sebuah pameran Tunggal sebagai sebuah presentasi paripurna.
Menekuni sei grafis sebagai jurusan minoritas di tengah dominasi seni Lukis tentunya tidak mudah. Selain butuh modal dan alat untuk mencetak, seni grafis belum mendapat apresiasi yang layak oleh kolektor pada waktu itu.
Kemudian seiring waktu Puji menghilang, sepertinya ia memilih jalan lain untuk survive. Dari postingan di sosmed saya tahu beliau kerja di industri kreatif. Memilih realistis, serealis karyanya agar tetap bisa bertahan menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Sampai kemudian di tahun 2024 awal saya ketemu Puji lagi di Galnas.
Rupanya anak-anak grafis murni sudah ingin kangen-kangenan. Lalu berkumpul di acara “Senin Grafis” sebuah kegiatan cetak mencetak yang di inisiasi oleh Eko dan Arip Betawi,anak grafis Angkatan 95/96.
Senin grafis menjadi “comeback”nya Puji Bagyo.
Kali ini doi muncul dengan karya cetak tinggi dengan kualitas sangat tinggi.
Figur-figur realis Kembali ia suntuki.
Diawal penciptaan, Puji mencetak imajinasi-imajinasi seturut pemikirannya dengan visual yang tetap relaistis. Gambaran Raja Kodok yang bertahta dengan congkak diatas tumpukan tengkorak menjadi karya simbolis yang menarik.
Harusnya Galnas MEMAMERKAN karyanya puji ini daripada karya Pak Yos yang terlalu vulgar.. Upss..
saya beruntung dapat satu eksemplar karyanya
Iya, sebagai seniman, karya Puji yang berisi kritikan mampu menghadirkan satir dengan tajam dan mengena tanpa menghadirkan visual yang vulgar.
Disitu kejeniusan seniman teruji.
Karya terakhir Puji yang membuat saya berdecak kagum adalah gambar seorang anak menuntun kerbau melintasi tanah kering retak-retak dengan gambar latar pabrik yang mengepulkan polusi.
Teknik "layering" kembali muncul di visual bayang-bayang figur utama. Coba deh perhatikan.



Lagi-lagu Puji mampu menghadirkan gambaran satir cerdas yang tak terhebak menjadi vulgar dan “cetek”
Teruntuk galnas, sepertinya perlu mempertimbangkan memamerkan karya grafis murninya Puji nih.
Yang rutin mojok di Galnas mencetak karya tiap senin

Monday, December 30, 2024

Perihal sensor karya dan klarifikasinya

 


Akhirnya yang saya cari-cari ketemu juga.

Klarifikasi kurator pameran galnas yang heboh itu.
Kalrifikasi tersebut ada di channel youtubenya mojok, di acara “putcast”
Di acara itu pak Warno sang kurator bercerita perihal ontran-ontran yang masih hangat, yaitu tentang “boikot” pameran seni rupa Yos Suprapto di galeri Nasional beberapa waktu yang lalu.
Sebelum membahas topik utama, pak Warno bercerita terlebih dulu seputar proses kuratorial dan dinamika yang terjadi di Galnas. Ini juga jadi poin pembahasan yang menarik, sayangnya tidak tuntas pembahasannya.
Seperti yang kita ketahui bersama, Jagat seni rupa yang sebelumnya adem cenderung hambar, tau-tau menjadi hiruk pikuk meledakkan kabar sumir, “boikot” karya, yang tentu saja menyentak kesadaran banyak orang khususnya yang berkecimpung di dunia seni rupa dan masyarakat umum.
Yang kemudian bereaksi keras adalah teman-teman aktifis, karena sang seniman selain pelukis juga aktifis lingkungan/ pertanian. Solidaritas sesame aktifis kemudian “meledakkan” kabar boikot tersebut di media sosial
Iya, kalau flashback ke belakang, pertama kali saya mendapat kabar tentang “ boikot” karya ini dari beranda fesbuk teman-teman aktifis. Dari cara merespon kabar tersebut terasa sekali semangat “membela” dari tema sesama aktifis yang tersentak perasaannya karena “ketidak adilan” yang menimpa Yos suprapto.
Tercatat ada tiga aktifis yang menyebarkan kabar tersebut, ada mas Bram, lalu pak tri/ kartriaji dan Imam Sofwan.
Karena kepo lalu saya mulai mencari tahu kebenaran kabar tersebut.
Langkah berikut dari kekepoan saya adalah adalah mencari “pembelaan” dari kuratornya, atau pihak terkait lainnya, mislanya galnas atau bahkan Menteri kebudayaan.
Sementara itu pernyataan yang keluar dan viral ke publik dari awal adalah omongan senimannya yang merasa terzolimi dan menjadi korban ketidakadilan.
Akhirnya yang saya cari ketemu di “putcast”, sebuah talkshow produksi group mojok.
Dari tayangan tersebut, saya mulai agak benderang mendapatkan cerita dari sisi kuratornya yaitu Pak Warno.
Selain menjelaskan soal pameran yang heboh tersebut, pak Warno juga memberi banyak informasi penting terkait proses kuratorial, juga posisi Galnas saat ini, yang saya pun ternyata salah memahaminya.
Menurut pak Warno, terkait Galnas, ada regulasi yang berubah saat ini sehingga mempengaruhi beberapa kebijakan, yang kalau di runut bisa jadi memberi kontribusi terhadap kehebohan yang terjadi.
Regulasi tersebut berhubungan dengan sistem pengelolaan Gakeri Nasional yang berubah, dari manajemen galeri berubah menjadi manajemen museum.
Menyimak penjelasan pak Warno, ada beberapa poin yang menting untuk dicatat.
poin pertama, soal posisi. Bagaimana melihat Posisi hubungan antara kurator, seniman dan galeri sebagai “pemilik hajatan”
Kurator menurut pak warno dipilih oleh galeri yang kemudian menawarkannya ke seniman, setelah seniman sepakat baru kerja kuratorial dilaksanakan.
Kemudian ada hal penting Lgi tetapi tak terjelaskan secara detail oleh pak Warno, yaitu posisi galeri nasional sendiri secara institusi.
Sebagai galeri milik negara tentunya Galnas memiliki aturan/ kebijakan tertentu.
Selain itu, sebagai sebuah galeri, baik milik pemerintah atau individu tentunya punya kecenderungan dalam memilih karya dan seniman yang akan ditampilkannya.
Sebagai galerinya pemerintah, tentunya memiliki aturan ketat yang akan yang berpengaruh dalam penentuan tema karya misalnya, termasuk juga pemilihan senimannya.
Tak terbayangkan misalnya galeri yang jelas-jelas milik pemerintah kemudian memajang karya yang menyerang pemerintahan sendiriAtau , menampilkan karya-karya provokatif misalnya. Atau menjelek-jelekkan aparatur negara.
Tetapi tak ada penjelasan memadai tentang itu dari kurator. Seperti kita ketahui, pak Warno adalah salah satu anggota dewan kurator Galnas, yang jelas memiliki otoritas untuk menjelaskan serta sangat jelas posisi keberpihakannya ke siapa.
Kemudian poin kedua yang perlu dicatat adalah soal sikap.
Ini poin penting.
Sikap tidak tegas terlihat dari pernyataan pak Warno sebagai kurator yang tidak bisa memberi rambu-rambu ke seniman. Harusnya sebagai institusi sebesar galeri nasional, mereka punya aturan-aturan yang wajib disepakati oleh pihak yang akan bekerjasama.
Aturan itu wujudnya adalah perjanjian hitam putih diatas kertas yang wajib disepakati dan ditaati.
Aturan itu akan menjadi acuan galeri maupun kurator. Imbasnya seleksi karya jadi lebih ketat dan terukur sesuai visi dan misi galeri, sehingga meminimalkan masalah yang muncul di kemudian hari.
Lalu problem “tidak enakan” tidak akan terjadi.
Bom waktu bernama “tidak enakan” itu sepertinya yang jadi intinya inti dari masalah yang terjadi kemduian beneran meledak..
“DUARR”
Sikap yang kemudian dikaitkan dengan kultur jogja yang saya sendiri sering mmengalami. Tidak enakan memberi harga, tidak enakan meminta DP, tidak enakan bilang tidak.. haiss.
Dalam kerja kerja professional ya ndak boleh bersikap seperti itu.
Tapi, ada satu pernyataan pak Warno yang buat saya pribadi menarik dicatat.
“Senimu untuk apa”
Sebuah pernyataan berbentuk pertanyaan itu cukup layak jadi renungan akhir tahun.

Seni cetak mencetak uang


Ada beberapa peristiwa penting di tahun ini yang menarik dicatat, khususnya yang berhubungan dengan seni rupa yang mana saya adalah bagian didalamnya. Awal tahun saya gabung dgn gerombolan reunian yang berisi teman² alumni grafis murni. Mereka kumpul di Galnas membuat koloni Klangenan. Kegiatan utamanya membuat karya dengan teknik cetak tinggi.

Karena kumpulnya tiap Senin maka dinamai "Senin grafis"
Meskipun saya tak begitu aktif setidaknya gerombolan ini kembali mengentalkan darah minoritas saya, sebagai sarjana seni sablon/SSn.
Beberapa kawan lama terlihat antusias berkegiatan di pojokan galnas tersebut. Mereka membuat karya dengan sukacita. Mengisi waktu menuanya kembali kumpul dengan teman lama. Wajah² yg jaman kuliah dulu terlihat gagah sekarang tentu berubah, dan beruban. Tetapi semangat sor ringin/gampingan 1 nya masih terasa.
Beberapa kali mereka bikin workshop keliling. Meski saya tidak ikut karena masih proses penyembuhan mata.
Meski dari kejauhan saya tetap Bangga. Seni grafis masih ada. Alumninya aktif berkegiatan meski nirlaba.
Sampai kemudian ada berita yg mencengangkan saya, sekaligus membuat lumayan shock.
Di sebuah kampus Islam di suatu tempat nun jauh disana terjadi aktifitas cetak mencetak yang jauh lebih canggih, menantang adrenalin dan berbahaya. Seni cetak mencetak yang bagi kami proses yang melibatkan hati dan jauh dari laba seperti diketawain oleh mereka. Mungkin kami yang terlalu cupu sehingga tak berani berpikir sejauh mereka.
Padahal institusi yang menaungi mereka jelas² lembaga agama.
Sedangkan kami? Sering mendaku sekuler atau malah agnostik. Yang jauh dari norma agama.
Yang jelas kami kalah nyali, atau tidak punya pembenaran terhadap apa yang menjadi pilihan seperti yang mereka lakukan..
Mungkin mereka punya dalil yang membenarkan perilaku mereka sehingga segala cara dilakukan. Mungkin ada agenda lain yg dirasa penting sehingga cara itu ditempuh.
Cara yang bagi kami sangat mungkin bisa dilakukan.
Apalagi kami sekumpulan sarjana cetak mencetak.
Tetapi mencetak uang jauh dari pikiran kami.
Atau nyali ini memang seupil. Padahal kalau menuruti keadaan dan kenyataan. Keuangan diantara kamipun bisa dikatakan alakadarnya.
Masih butuh lembaran merah itu untuk menyambung hidup.
Sekumpulan sarjana ilmu agama itu mencetak uang diam² sejak tahun 2010. Bayangkan coba
Di sebuah perpustakaan kampus yang saya bayangkan berisi buku² relijies, ilmu agama beserta tafsirnya. Bahkan dipastikan ada kitab suci di dalamnya.
Mereka mencetak uang selama hampir 15 tahun dan baru ketahuan di tahun ini. Bayangkan sudah berapa nominalnya.
Sudah berapa event yg bisa mereka ongkosi dengan aktifitas itu.
Kalau di kesenian, sudah berapa pameran seni yg bisa dibiayai dengan aktifitas cetak mencetak tersebut.
Gak perlu susah² bikin proposal ke negara, demi bisa pameran.
Tak perlu negosiasi alot dgn kurator yg disetir galeri karena kita penguasanya.
Ya karena kita pemilik uangnya. Bisa seenaknya dong
Dan yg pasti, ga perlu susah² jualan karya yg tujuannya mendapat cuan, karena kita pembuat cuannya. Ha ha ha.
Ah sudahlah, sudah cukup ngelanturnya


Wednesday, January 06, 2021

API

 


Apa yang menjadi apimu?

Yang membuat hidupmu bergairah, nyaman dalam menjalaninya, dan bisa jadi adalah tujuan hidup.

Dulu apiku adalah ibu.
Saat aku belum paham tujuan hidup dan masih kanak-kanak. Tujuan hidupku ya hanya menghabiskan waktu bersama sosok yang memberi asi kepadaku sampai umur 4 tahun, dan membiarkanku nyaman menetek meski tanpa susu sampai umur 5 tahun.

Lalu apiku itu padam saat belum genap 10 tahun. Aku patah, dunia yang sebelumnya berwarna orange mendadak jadi biru tua. Lalu aku mulai meraba-raba. Mencari lagi api hidup. Api yang akan menjadi bara sampai waktuku habis dan meredup. Lalu Api itu kurasakan muncul dari setiap senyum orang yang kutemui. Aku nyaman melihat orang tersenyum dan membalas senyumku.

Terpikir aku harus bisa membuat orang tersenyum.

Lalu aku berusaha berbuat baik agar orang lain tersenyum.
Aku sudah muak dengan kesedihan akibat ibu yang mendadak pergi.

Hanya ingin bisa tersenyum. setidaknya untuk diri sendiri, syukur-syukur bisa mengajak orang lain.
Awalnya itu muncul tanpa sadar. Dari pilihan-pilihan hobi yang muncul.

Kebetulan aku suka menggambar. Mungkin dipengaruhi kakakku yang lebih dulu eksis menggambar kartun. Kakakku mengirim gambar kartunnya ke beberapa media cetak kala itu,tahun 80an akhir sampai tahun 90an. Dan lumayan bisa untuk bertahan hidup.

Akupun mengikutinya. Lebih ke upaya membuat orang tertawa, setidaknya tersenyum. Honor ya tetep perlu, sebagai tambahan uang saku.

Seiring waktu, pilihan hidup pun mengarah ke visual.
Menggambar, membuat kartun dan komik. Dari SMA/SMSR sampai kuliah di ISI. Meski belum dengan kesadaran saat ini. Aku suka menggambar, melucu lewat gambar tepatnya.
Dengan lelucon atau satir. Tidak langsung tertawa, mikir dulu. Aku suka lukisan dengan muatan satir imajinatif, macam lukisan Sudjono Kerton, JokoPekik, Marc Chagall, dan Picasso. Melihat bentuk-bentuk kubis karya Picasso itu sebuah satir anatomi yangmenggelikan.
Juga imajinasi Marc Chagall yang liar. Dari figure-figur kubisme Picasso kukembangkan karakter kartun dan komik, dari Marc Chagall kuambil cara dia membuat komposisi gaya lukis untuk menghasilkan visual yang bisa jadi untuk ilustrasi, kartun dan komik,yang kuharap jadi gaya ciri khasku.

Memaknai hal lucu pun berkembang seiring pengetahuan yang diasup kepala.
Menterjemahkan lucu sebagai proses mentertawakan fenomena yang pernah dialami dan sudah terlewat dalam hidup, lalu saat diingat menjadi hal yang menggelitik dan menimbulkan tawa, bahkan dari sepahit apapun pengalamannya salah satunya.

Lalu lahir karya satir yang bisa jadi terkesan gelap, tetapi ada sesuatu yang menggelitik  dan membuat tertawa meski sambil misuh-misuh.

Kemudian memanfaatkan medium senirupa/ komik sebagai media curhat yang harapannya bisa melapangkan hati dan menerbitkan senyuman. Kupraktekkan di penjara anak-anak Tangerang dari tahun 2005-2010 secara intens. Kemudian ke penjara-penjara lain sampai tahun 2016.

Aku menulis ini tentu ada penyebabnya. Sepagi tadi bersama istri kita melihat film animasi Disney berjudul “Soul”. Film tentang jiwa-jiwa yang diturunkan untuk bertemu raga dan menuntun takdirnya. Dikemas dalam cerita yang ringan dan lucu
Lebih jelasnya silahkan tonton sendiri di Disney+ (bukan maksud ngiklan ya)

Film yang memantik tulisan ini. Juga sebagai catatan awal tahun yang akan kuposting di rahmanseblat.blogspot.com
mau ngeblog lagi ceritanya.

Memulai dengan catatan yang semoga reflektif untukku sendiri. Semakin paham dengan tujuan hidup dan menjaga api, yang ternyata adalah senyuman.

Dari situ semua bermula, dan hidup dijalani sampai waktunya redup dan mati